Model Pembelajaran Problem Based Learning (Berbasis Masalah)

Rate this item
(3 votes)
model pembelajaran problem based learning

Berdasarkan pengertiannya, model pembelajaran problem based learning (berbasis masalah) merupakan suatu pendekatan pembelajaran dengan menggunakan masalah sebagai langkah awal untuk mendapatkan pengetahuan baru. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan model pembelajaran berbasis masalah  adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pembelajaran.

Trianto dalam "Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik", menjelaskan bahwa model pembelajaran berbasis masalah mengacu pada beberapa model pembelajaran yang lain, seperti : 

  1. Model pembelajaran proyek (project based learning). 
  2. Model pendidikan berbasis pengalaman (experience based education). 
  3. Model pembelajaran autentik (autentic learning). 
  4. Model pembelajaran bermakna (anchored instruction).

Pengertian Model Pembelajaran problem based learning Menurut Para Ahli

Selain itu, pengertian model pembelajaran berbasis masalah juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Suyatno (Menjelajah Pembelajaran Inovatif)

Model pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu proses pembelajaran di mana titik awal pembelajaran dimulai berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata, peserta didik distimulus untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka miliki sebelumnya (prior knowledge) untuk membentuk pengetahuan dan pengalaman baru.

  1. Waras Kamdi (Model-Model Pembelajaran Inovatif)

Model pembelajaran berbasis masalah adalah sebuah model pembelajaran yang didalamnya melibatkan siswa untuk berusaha memecahkan masalah dengan melalui beberapa tahap metode ilmiah sehingga siswa diharapkan mampu mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan akan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah. 

  1. M. Ibrahim dan M. Nur, (Pembelajaran Berdasarkan Masalah)

Model pembelajaran problem based learning adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi siswa dalam situasi yang berorientasi pada masalah dunia nyata, termasuk di dalamnya bagaimana belajar. 

  1. Richard Arends, (Learning to Teach)

Bahwa yang dimaksud dengan model pembelajaran problem based learning adalah suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.

  1. John R. Savery, (Overview of Problem-Based Learning : Definitions and Distinctions)

Dimuat dalam Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning : 1 (1), menyebutkan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah strategi pembelajaran yang memberdayakan siswa untuk melakukan penelitian, mengintegrasikan teori dan praktik, mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan sebuah solusi praktis atas suatu problem tertentu.

Ciri-Ciri Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Menurut Trianto, model pembelajaran Problem Based Learning memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 

  1. Pengajuan pertanyaan atau masalah. Pendidik memunculkan pertanyaan yang nyata di lingkungan peserta didik serta dapat diselidiki oleh peserta didik kepada masalah yang autentik ini dapat berupa cerita, penyajian fenomena tertentu, atau mendemonstrasikan suatu kejadian yang mengundang munculnya permasalahan atau pertanyaan. 
  2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Meskipun model pembelajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (Ilmu Pengetahuan Alam, matematika, serta ilmu-ilmu sosial), masalah yang dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, peserta didik dapat meninjau dari berbagi mata pelajaran yang lain. 
  3. Penyelidikan autentik. Model pembelajaran berbasis masalah mengharuskan peserta didik melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah yang disajikan. Metode penyelidikan ini bergantung pada masalah yang sedang dipelajari. 
  4. Menghasilkan produk atau karya. Model pembelajaran berbasis masalah menuntut peserta didik untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat juga berupa laporan, model fisik, video, maupun program computer. 
  5. Kolaborasi. Model pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh peserta didik yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerjasama untuk terlibat dan saling bertukar pendapat dalam melakukan penyelidikan sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang disajikan.

Sedangkan berdasarkan teori yang dikembangkan Min Liu Barrow dalam Motivating Students Through Problem-based Learning, dijelaskan bahwa karakteristik atau ciri-ciri dari model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut :

  1. Learning is student-centered. Proses pembelajaran dalam model pembelajaran berbasis masalah lebih menitikberatkan kepada peserta didik sebagai orang belajar. Oleh karena itu, model pembelajaran berbasis masalah didukung juga oleh teori konstruktivisme dimana peserta didik didorong untuk dapat mengembangkan pengetahuannya sendiri. 
  2. Autenthic problems from the organizing focus for learning. Masalah yang disajikan kepada peserta didik adalah masalah yang autentik sehingga peserta didik mampu dengan mudah memahami masalah tersebut serta dapat menerapkannya dalam kehidupan profesionalnya nanti. 
  3. New information is acquired through self-directed learning. Dalam proses pemecahan masalah mungkin saja belum mengetahui dan memahami semua pengetahuan pra-sayaratnya sehingga peserta didik berusaha untuk mencari sendiri melalui sumbernya, baik dari buku atau informasi lainnya. 
  4. Learning occurs in small group. Agar terjadi interaksi ilmiah dan tukar pemikiran dalam usaha mengembangkan pengetahuan secara kolaboratif, model pembelajaran berbasis masalah dilaksanakan dalam kelompok kecil. Kelompok yang dibuat menuntut pembagian tugas yang jelas dan penerapan tujuan yang jelas. 
  5. Teachers act as facilitators. Pada pelaksanaan model pembelajaran berbasis masalah, pendidik hanya berperan sebagai fasilitator. Meskipun begitu pendidik harus selalu memantau perkembangan aktivitas peserta didik dan mendorong mereka agar mencapai target yang hendak dicapai.

Tahapan Pembelajaran Problem Based Learning

Terdapat beberapa tahapan dalam penerapan model pembelajaran berbasis masalah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menjelaskan bahwa tahapan operasional dalam proses pembelajaran berdasarkan model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:

  1. Konsep Dasar (Basic Concept)

Dalam tahap ini, fasilitator memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan peta yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran.

  1. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem)

Dalam tahap ini, fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan peserta didik melakukan berbagai kegiatan brain storming dan semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat.

  1. Pembelajaran Mandiri (Self Learning)

Dalam tahap ini, peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu :

    1. Agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas.
    2. Informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami.
  1. Pertukaran Pengetahuan (Exchange Knowledge)

Dalam tahap ini, setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya.

  1. Penilaian (Assessment)

Dalam tahap ini, penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek, yaitu : 

    1. Aspek pengetahuan (knowledge). 
    2. Aspek kecakapan (skill). 
    3. Aspek sikap (attitude). 

Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran, dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, pekerjaan rumah, dokumen, dan laporan.

Tahapan Menurut Richard Arends

Menurut Richard Arends, terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam penerapan metode pembelajaran berbasis masalah, yaitu sebagai berikut : 

  1. Orientasi peserta didik kepada masalah

Pada tahap ini, pendidik akan menjelaskan kepada peserta didik tentang :

    1. Tujuan pembelajaran. 
    2. Logistic yang diperlukan. 
    3. Pengajuan masalah. 
    4. Segala sesuatu yang sifatnya memotivasi peserta didik. 
    5. Aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya serta terlibat di dalamnya.
  1. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar

Pada tahap ini, pendidik membantu siswa mendefenisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

  1. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

Pada tahap ini, pendidik mendorong peserta didik untuk :

    1. Mengumpulkan informasi yang sesuai. 
    2. Melaksanakan eksperimen. 
    3. Mendapatkan penjelasan berkaitan dengan pemecahan masalah.
  1. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Pada tahap ini, pendidik akan membantu peserta didik dalam :

    1. Merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video,  dan model.
    2. Membantu peserta didik untuk berbagi tugas dengan kelompoknya.
  1. Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Pada tahap ini, pendidik akan membantu peserta didik dalam hal melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dalam proses-proses yang mereka gunakan.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Problem Based Learning

Sebagaimana model pembelajaran yang lain, model pembelajaran berbasis masalah juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut Aris Shoimin dalam 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013, kelebihan dan kekurangan model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut :

  1. Kelebihan Pembelajaran Problem Based Learning

    1. Peserta didik didorong untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah dalam situasi nyata.
    2. Peserta didik memiliki kemampuan membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas belajar. 
    3. Pembelajaran berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada hubungannya tidak perlu dipelajari oleh peserta didik. Hal ini mengurangi beban siswa dengan menghafal atau menyimpan informasi. 
    4. Terjadi aktivitas ilmiah pada peserta didik melalui kerja kelompok. 
    5. Peserta didik terbiasa menggunakan sumber-sumber pengetahuan, baik dari perpustakaan, internet, wawancara, dan observasi. 
    6. Peserta didik memiliki kemampuan menilai kemajuan belajarnya sendiri. 
    7. Peserta didik memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah dalam kegiatan diskusi atau presentasi hasil pekerjaan mereka. 
    8. Kesulitan belajar peserta didik secara individual dapat diatasi melalui kerja kelompok dalam bentuk peer teaching.
  1. Kekurangan Pembelajaran Problem Based Learning

    1. Tidak dapat diterapkan untuk setiap materi pelajaran, ada bagian di mana pendidik berperan aktif dalam menyajikan materi. 
    2. Lebih cocok untuk pembelajaran yang menuntut kemampuan tertentu yang kaitannya dengan pemecahan masalah.
    3. Dalam suatu kelas yang memiliki tingkat keragaman peserta didik yang tinggi akan terjadi kesulitan dalam pembagian tugas.

Kelebihan dan Kekurangan Menurut Dwi Retno Suyanti

Sedangkan menurut Dwi Retno Suyanti dalam "Strategi Pembelajaran Kimia", menyebutkan bahwa  kelebihan dan kekurangan penerapan model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut :

  1. Kelebihan Model Pembelajaran Berbasis Masalah

    1. Dirancang untuk membantu peserta didik dalam membangun kemampuan berfikir kritis, pemecahan masalah, dan intelektual mereka, dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyelesaikan dengan pengetahuan baru. 
    2. Membuat peserta didik menjadi mandiri dan bebas. 
    3. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk memahami isi pelajaran, dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran peserta didik. 
    4. Dapat memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. 
    5. Membantu peserta didik mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan, juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya. 
    6. Memperlihatkan kepada peserta didik bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berfikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh peserta didik, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku.
    7. Dapat mengembangkan minat peserta didik untuk terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal berakhir.
  1. Kekurangan Model Pembelajaran Berbasis Masalah

    1. Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
    2. Keberhasilan strategi model pembelajaran berbasis masalah membutuhkan cukup waktu untuk persiapan. 
    3. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

Model problem based learning dimulai oleh adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh peserta didik maupun pendidik, kemudian peserta didik memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang perlu mereka ketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Peserta didik dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong untuk berperan aktif dalam belajar.

Demikian pembahasan mengenai model pembelajaran problem based learning atau berbasis masalah menurut para ahli. Semoga bermanfaat bagi Anda semua. Akhir kata terimakasih.

Sumber Pustaka

  1. Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013, (Yogyakarta:Ar-Ruzz Media, 2014), hlm. 130
  2. Arends, Richard. 2008. Learning to Teach. Penerjemah: Helly Prajitno & Sri Mulyani. New York: McGraw Hill Company.
  3. Liu, Min. 2005. Motivating Students Through Problem-based Learning. University of Texas : Austin. [online]. Tersedia : https:// Akses pada tanggal 22-03-2007
  4. Suyanti, Retno Dwi. Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha Ilmu; 2010.
  5. Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta:Kencana Prenada Media Group.
  6. Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
  7. Trianto dan Sunarni. 2011. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik : Konsep, Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya. Jakarta : Prestasi Pustaka
  8. Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Read 470 times
Artikel Lainnya

MA AL Ahrom Karangsari

Madrasah yang berdiri sejak tahun 2009, terletak di jalan Nangka No. 45 Karangsari, Karangtengah, Demak.

DMCA.com Protection Status

Social Media Madrasah AL AHROM

Social Media Share Kami

facebook icon smallyoutube icon small

Mari Follow dan Ikuti setiap kegiatan MA AL Ahrom Karangsari di social media kami.