Minggu, 04 April 2021 11:30

Tokoh Ilmuwan Atau Penemu Muslim Terhebat Dalam Sejarah

Rate this item
(0 votes)

Apakah kalian tahu bahwa penemuan-penemuan yang kelihatannya berasal dari barat ternyata sudah lebih dahulu ditemukan oleh ahli dan cendikiawan-cendikiawan muslim Islam. Ini dapat kita lihat dari Daftar Tokoh lmuwan-ilmuwan Islam terbesar dan terhebat yang pernah tercatat dalam sejarah Para ilmuwan dan penemu Muslim (Arab, Persia dan Turki) telah berhasil membuat beberapa penemuan yang luar biasa ratusan tahun lebih dulu dibanding para ahli dan rekan-rekan mereka di Eropa.

Tokoh Ilmuwan Atau Penemu Muslim Terhebat Dalam Sejarah

Menurut beberapa sumber para ahli ini menarik pengaruh dari filsafat Aristoteles dan Neo-Platonis, termasuk Euclid, Archimedes, Ptolemy dan lain-lain. Kaum muslimin pada saat itu telah berhasil membuat berbagai penemuan di bidang kedokteran, Neorologis, bedah, matematika, fisika, kimia, filsafat, astrologi, geometri dan bidang lainnya, yang tak terhitung jumlahnya dan menuliskan karya-karyanya dalam berbagai literatur dan buku yang banyak dipakai diberbagai bidang.

Penemu Islam Dalam Sejarah Ilmu Pengetahuan

Berikut ini adalah beberapa ilmuwan dan penemu muslim dengan penemuan ilmu pengetahuan luar biasa yang sangat berpengaruh terhadap dunia mereka:

  1. Al-Farabi

Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi (872-950) disingkat Al-Farabi adalah ilmuwan dan filsuf Islam yang berasal dari Farab, Kazakhstan. Ia juga dikenal dengan nama lain Abū Nasir al-Fārābi (dalam beberapa sumber ia dikenal sebagai Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzalah Al- Farabi, juga dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir).

Al Farabi dianggap sebagai salah satu pemikir terkemuka dari era abad pertengahan. Selama hidupnya al Farabi banyak berkarya. Jika ditinjau dari Ilmu Pengetahuan, karya-karya al- Farabi dapat ditinjau menjadi 6 bagian:

  1. Logika
  2. Ilmu-ilmu Matematika
  3. Ilmu Alam
  4. Teologi
  5. Ilmu Politik dan kenegaraan
  6. Bunga rampai (Kutub Munawwa’ah).

Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas tentang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara rejim yang paling baik menurut  pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah Islam.

  1. Al-Batani

Al Battani (sekitar 858-929) juga dikenal sebagai Albatenius adalah seorang ahli astronomi dan matematikawan dari Arab. Al Battani nama lengkap: Abū Abdullāh Muhammad ibn Jābir ibn Sinān ar-Raqqī al-Harrani as-Sabi al-Battānī), lahir di Harran dekat Urfa.

Salah satu pencapaiannya yang terkenal dalam astronomi adalah tentang penentuan Tahun Matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Al Battani juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri.

Ia juga memecahkan persamaan sin x = a cos x dan menemukan rumusnya. Serta menggunakan gagasan al-Marwazi tentang tangen dalam mengembangkan persamaan-persamaan untuk menghitung tangen, cotangen dan menyusun tabel perhitungan tangen. Al Battani bekerja di Suriah, tepatnya di ar-Raqqah dan di Damaskus, yang juga merupakan tempat wafatnya.

  1. Ibnu Sina

Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Ia juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan.

Bagi banyak orang, beliau adalah Bapak Pengobatan Modern dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal Qanun fi Thib  merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran).

Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar, banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai Bapak Kedokteran Modern, George Sarton menyebut Ibnu Sina sebagai "Ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu". Karyanya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).

Karya

  1. Qanun fi Thib (Canon of Medicine/Aturan Pengobatan)
  2. Asy Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan)
  3. An Najat
  1. Ibnu Batutah

Abu Abdullah Muhammad bin Battutah atau juga dieja Ibnu Batutah adalah seorang pengembara (penjelajah) Berber Maroko. Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia. Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi, Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14.

Lahir di Tangier, Maroko antara tahun 1304 dan 1307, pada usia sekitar dua puluh tahun Ibnu Batutah berangkat haji - ziarah ke Mekah. Setelah selesai, dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer sepanjang dunia Muslim (sekitar 44 negara modern).

  1. Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd (Ibnu Rushdi, Ibnu Rusyid, lahir tahun 1126 di Marrakesh Maroko, wafat tanggal 10 Desember 1198) juga dikenal sebagai Averroes, adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia).

Ikhtisar

Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja.

Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang memengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.

Pemikiran Ibnu Rusyd

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.

Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.

Karya

  1. Bidayat Al-Mujtahid
  2. Kulliyaat fi At-Tib (Kuliah Kedokteran)
  3. Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at
  1. Muhammad Bin Musa Al-Khawarizmi

Muhammad bin Mūsā al-Khawārizmī adalah seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwārizm (sekarang Khiva, Uzbekistan) dan wafat sekitar tahun 850 di Baghdad. Hampir sepanjang hidupnya, ia bekerja sebagai dosen di Sekolah Kehormatan di Baghdad.

Buku pertamanya, al-Jabar, adalah buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Sehingga ia disebut sebagai Bapak Aljabar. Translasi bahasa Latin dari Aritmatika beliau, yang memperkenalkan angka India, kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Penomoran Posisi Desimal di dunia Barat pada abad ke 12. Ia merevisi dan menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi.

Kontribusi beliau tak hanya berdampak besar pada matematika, tapi juga dalam kebahasaan. Kata Aljabar berasal dari kata al-Jabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk menyelesaikan notasi kuadrat, yang tercantum dalam buku beliau. Kata logarisme dan logaritma diambil dari kata Algorismi, Latinisasi dari nama beliau. Nama beliau juga di serap dalam bahasa Spanyol Guarismo dan dalam bahasa Portugis, Algarismo yang berarti digit.

Biografi

Sedikit yang dapat diketahui dari hidup beliau, bahkan lokasi tempat lahirnya sekalipun. Nama beliau mungkin berasal dari Khwarizm (Khiva) yang berada di Provinsi Khurasan pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah (sekarang Xorazm, salah satu provinsi Uzbekistan). Gelar beliau adalah Abū ‘Abdu llāh atau Abū Ja’far.

Sejarawan al-Tabari menamakan beliau Muhammad bin Musa al-Khwārizmī al-Majousi al-Katarbali. Sebutan al-Qutrubbulli mengindikasikan beliau berasal dari Qutrubbull, kota kecil dekat Baghdad.

Dalam Kitāb al-Fihrist Ibnu al-Nadim, kita temukan sejarah singkat beliau, bersama dengan karya-karya tulis beliau. Al-Khawarizmi menekuni hampir seluruh pekerjaannya antara 813-833. setelah Islam masuk ke Persia, Baghdad menjadi pusat ilmu dan perdagangan, dan banyak pedagang dan ilmuwan dari Cina dan India berkelana ke kota ini, yang juga dilakukan beliau. Dia bekerja di Baghdad pada Sekolah Kehormatan yang didirikan oleh Khalifah Bani Abbasiyah Al-Ma'mun, tempat ia belajar ilmu alam dan matematika, termasuk mempelajari terjemahan manuskrip Sanskerta dan Yunani.

Karya

Karya terbesar beliau dalam matematika, astronomi, astrologi, geografi, kartografi, sebagai fondasi dan kemudian lebih inovatif dalam aljabar, trigonometri, dan pada bidang lain yang beliau tekuni. Pendekatan logika dan sistematis beliau dalam penyelesaian linear dan notasi kuadrat memberikan keakuratan dalam disiplin aljabar, nama yang diambil dari nama salah satu buku beliau pada tahun 830 M, al-Kitab al-mukhtasar fi hisab al-jabr wa'l-muqabala atau: "Buku Rangkuman untuk Kalkulasi dengan Melengkapakan dan Menyeimbangkan”, buku pertama beliau yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12.

Pada buku beliau, Kalkulasi dengan angka Hindu, yang ditulis tahun 825, memprinsipkan kemampuan difusi angka India ke dalam perangkaan timur tengah dan kemudian Eropa. Buku beliau diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Algoritmi de numero Indorum, menunjukkan kata algoritmi menjadi bahasa Latin. Beberapa kontribusi beliau berdasar pada Astronomi Persia dan Babilonia, angka India, dan sumber-sumber Yunani.

Sistemasi dan koreksi beliau terhadap data Ptolemeus pada geografi adalah sebuah penghargaan untuk Afrika dan Timur Tengah. Buku besar beliau yang lain, Kitab surat al-ard ("Pemandangan Bumi";diterjemahkan oleh Geography), yang memperlihatkan koordinat dan lokasi dasar yang diketahui dunia, dengan berani mengevaluasi nilai panjang dari Laut Mediterania dan lokasi kota-kota di Asia dan Afrika yang sebelumnya diberikan oleh Ptolemeus.

Ia kemudian mengepalai konstruksi peta dunia untuk Khalifah Al-Ma’mun dan berpartisipasi dalam proyek menentukan tata letak di Bumi, bersama dengan 70 ahli geografi lain untuk membuat peta yang kemudian disebut “ketahuilah dunia”. Ketika hasil kerjanya disalin dan ditransfer ke Eropa dan Bahasa Latin, menimbulkan dampak yang hebat pada kemajuan matematika dasar di Eropa. Ia juga menulis tentang astrolab dan sundial.

Kitab I - Aljabar

Al-Kitāb al-mukhtaṣar fī ḥisāb al-jabr wa-l-muqābala (Kitab yang Merangkum Perhitungan Pelengkapan dan Penyeimbangan) adalah buku matematika yang ditulis pada tahun 830. Kitab ini merangkum definisi aljabar. Terjemahan ke dalam bahasa Latin dikenal sebagai Liber algebrae et almucabala oleh Robert dari Chester (Segovia, 1145) dan juga oleh Gerardus dari Cremona.

Dalam kitab tersebut diberikan penyelesaian persamaan linear dan kuadrat dengan menyederhanakan persamaan menjadi salah satu dari enam bentuk standar (di sini b dan c adalah bilangan bulat positif) dengan membagi koefisien dari kuadrat dan menggunakan dua operasi: al-jabr ( الجبر ) atau pemulihan atau pelengkapan) dan al-muqābala (penyetimbangan). Al-jabr adalah proses memindahkan unit negatif, akar dan kuadrat dari notasi dengan menggunakan nilai yang sama di kedua sisi. Contohnya, x^2 = 40x - 4x^2 disederhanakan menjadi 5x^2 = 40x. Al-muqābala adalah proses memberikan kuantitas dari tipe yang sama ke sisi notasi. Contohnya, x^2 + 14 = x + 5 disederhanakan ke x^2 + 9 = x.

Beberapa pengarang telah menerbitkan tulisan dengan nama Kitāb al-ǧabr wa-l-muqābala, termasuk Abū Ḥanīfa al-Dīnawarī, Abū Kāmil (Rasāla fi al-ǧabr wa-al-muqābala), Abū Muḥammad al-‘Adlī, Abū Yūsuf al-Miṣṣīṣī, Ibnu Turk, Sind bin ‘Alī, Sahl bin Bišr, dan Šarafaddīn al-Ṭūsī.

Kitab 2 - Dixit algorizmi

Buku kedua besar beliau adalah tentang aritmatika, yang bertahan dalam Bahasa Latin, tapi hilang dari Bahasa Arab yang aslinya. Translasi dilakukan pada abad ke-12 oleh Adelard of Bath, yang juga menerjemahkan tabel astronomi pada 1126.

Pada manuskrip Latin,biasanya tak bernama,tetapi umumnya dimulai dengan kata: Dixit algorizmi ("Seperti kata al-Khawārizmī"), atau Algoritmi de numero Indorum ("al-Kahwārizmī pada angka kesenian Hindu"), sebuah nama baru di berikan pada hasil kerja beliau oleh Baldassarre Boncompagni pada 1857. Kitab aslinya mungkin bernama Kitāb al-Jam’a wa-l-tafrīq bi-ḥisāb al-Hind ("Buku Penjumlahan dan Pengurangan berdasarkan Kalkulasi Hindu")

Kitab 3 - Rekonstruksi Planetarium

Peta abad ke-15 berdasarkan Ptolemeus sebagai perbandingan. Buku ketiga beliau yang terkenal adalah Kitāb surat al-Ardh "Buku Pemandangan Dunia" atau "Kenampakan Bumi" diterjemahkan oleh Geography), yang selesai pada 833 adalah revisi dan penyempurnaan Geografi Ptolemeus, terdiri dari daftar 2402 koordinat dari kota-kota dan tempat geografis lainnya mengikuti perkembangan umum.

Hanya ada satu kopi dari Kitāb ṣūrat al-Arḍ, yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Strasbourg. Terjemahan Latinnya tersimpan di Biblioteca Nacional de España di Madrid. Judul lengkap buku beliau adalah Buku Pendekatan Tentang Dunia, dengan Kota-Kota, Gunung, Laut, Semua Pulau dan Sungai, ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi berdasarkan pendalaman geografis yang ditulis oleh Ptolemeus dan Claudius.

Buku ini dimulai dengan daftar bujur dan lintang, termasuk “Zona Cuaca”, yang menulis pengaruh lintang dan bujur terhadap cuaca. Oleh Paul Gallez, dikatakan bahwa ini sanagat bermanfaat untuk menentukan posisi kita dalam kondisi yang buruk untuk membuat pendekatan praktis. Baik dalam salinan Arab maupun Latin, tak ada yang tertinggal dari buku ini. Oleh karena itu, Hubert Daunicht merekonstruksi kembali peta tersebut dari daftar koordinat. Ia berusaha mencari pendekatan yang mirip dengan peta tersebut.

Buku 4 - Astronomi

Kampus Corpus Christi MS 283-Buku Zīj al-sindhind (tabel astronomi) adalah karya yang terdiri dari 37 simbol pada kalkulasi kalender astronomi dan 116 tabel dengan kalenderial, astronomial dan data astrologial sebaik data yang diakui sekarang.

Versi aslinya dalam Bahasa Arab (ditulis 820) hilang, tapi versi lain oleh astronomer Spanyol Maslama al-Majrīṭī (1000) tetap bertahan dalam bahasa Latin, yang diterjemahkan oleh Adelard of Bath (26 Januari 1126). Empat manuskrip lainnya dalam bahasa Latin tetap ada di Bibliothèque publique (Chartres), the Bibliothèque Mazarine (Paris), the Bibliotheca Nacional (Madrid) dan the Bodleian Library (Oxford).

Buku 5 - Kalender Yahudi

Al-Khawārizmī juga menulis tentang Penanggalan Yahudi (Risāla fi istikhrāj taʾrīkh al-yahūd "Petunjuk Penanggalan Yahudi"). Yang menerangkan 19-tahun siklus interkalasi, hukum yang mengatur pada hari apa dari suatu minggu bulan Tishrī dimulai; memperhitungkan interval antara Era Yahudi (penciptaan Adam) dan era Seleucid; dan memberikan hukum tentang bujur matahari dan bulan menggunakan Kalender Yahudi. Sama dengan yang ditemukan oleh al-Bīrūnī dan Maimonides.

Karya lainnya

Beberapa manuskrip Arab di Berlin, Istanbul, Tashkent, Kairo dan Paris berisi pendekatan material yang berkemungkinan berasal dari al-Khawarizmī. Manuskrip di Istanbul berisi tentang sundial, yang disebut dalam Fihirst. Karya lain, seperti determinasi arah Mekkah adalah salah satu astronomi sferik.

Dua karya berisi tentang pagi (Ma’rifat sa’at al-mashriq fī kull balad) dan determinasi azimut dari tinggi (Ma’rifat al-samt min qibal al-irtifā’). Beliau juga menulis 2 buku tentang penggunaan dan perakitan astrolab. Ibnu al-Nadim dalam Kitab al-Fihrist (sebuah indeks dari bahasa Arab) juga menyebutkan Kitāb ar-Ruḵāma(t) (buku sundial) dan Kitab al-Tarikh (buku sejarah) tapi 2 yang terakhir disebut telah hilang.

  1. Umar Khayyam

Umar Khayyām (18 Mei 1048 - 4 Desember 1131), dilahirkan di Nishapur, Iran. Nama aslinya adalah Ghiyātsuddin Abulfatah 'Umar bin Ibrahim Khayyāmi Nisyābūri . Khayyām berarti "pembuat tenda" dalam bahasa Persia.

Sang Matematikawan

Pada masa hidupnya, ia terkenal sebagai seorang matematikawan dan astronom yang memperhitungkan bagaimana mengoreksi kalender Persia. Pada 15 Maret 1079, Sultan Jalaluddin Maliksyah Saljuqi (1072-1092) memberlakukan kalender yang telah diperbaiki Umar, seperti yang dilakukan oleh Julius Caesar di Eropa pada tahun 46 SM dengan koreksi terhadap Sosigenes, dan yang dilakukan oleh Paus Gregorius XIII pada Februari 1552 dengan kalender yang telah diperbaiki Aloysius Lilius (meskipun Britania Raya baru beralih dari Kalender Julian kepada kalender Gregorian pada 1751, dan Rusia baru melakukannya pada 1918).

Dia pun terkenal karena menemukan metode memecahkan persamaan kubik dengan memotong sebuah parabola dengan sebuah lingkaran.

Sang Astronom

Pada 1073, Malik-Syah, penguasa Isfahan, mengundang Khayyām untuk membangun dan bekerja pada sebuah observatorium, bersama-sama dengan sejumlah ilmuwan terkemuka lainnya. Akhirnya, Khayyām dengan sangat akurat (mengoreksi hingga enam desimal di belakang koma) mengukur panjang satu tahun sebagai 365,24219858156 hari.

Ia terkenal di dunia Persia dan Islam karena observasi astronominya. Ia pernah membuat sebuah peta bintang (yang kini lenyap) di angkasa. Umar Khayyām dan Islam.

Filsafat Umar Khayyām agak berbeda dengan dogma-dogma umum Islam. Tidak jelas apakah ia percaya akan kehadiran Allah atau tidak, namun ia menolak pemahaman bahwa setiap kejadian dan fenomena adalah akibat dari campur tangan ilahi. Ia pun tidak percaya akan Hari Kiamat atau ganjaran serta hukuman setelah kematian. Sebaliknya, ia mendukung pandangan bahwa hukum-hukum alam menjelaskan semua fenomena dari kehidupan yang teramati. Para pejabat keagamaan berulang kali meminta dia menjelaskan pandangan-pandangannya yang berbeda tentang Islam. Khayyām akhirnya naik haji ke Mekkah untuk membuktikan bahwa ia adalah seorang muslim.

Omar Khayyam, Sang Skeptik

Berikut ini adalah kata-kata yang menggambarkan Omar Khayyam sebagai seorang yang skeptik.

Dan, sementara Ayam Jantan berkokok, mereka yang berdiri di muka / Rumah Minum berseru - "Bukalah Pintu! / Engkau tahu betapa sedikit waktu yang kami punyai untuk singgah, / Dan bila kami pergi, mungkin kami takkan kembali lagi."

Demikian pula bagi mereka yang bersiap-siap untuk HARI INI, / Dan meyangka setelah ESOK menatap, / Seorang muazzin berseru dari Menara Kegelapan / "Hai orang bodoh! ganjaranmu bukan di Sini ataupun di Sana!"

Mengapa, semua orang Suci dan orang Bijak yang mendiskusikan / Tentang Dua Dunia dengan begitu cerdas, disodorkannya / Seperti Nabi-nabi bodoh; Kata-kata mereka untuk Dicemoohkan / Ditaburkan, dan mulut mereka tersumbat dengan Debu.

Oh, datanglah dengan Khayyam yang tua, dan tinggalkanlah Yang Bijak / Untuk berbicara; satu hal yang pasti, bahwa Kehidupan berjalan cepat; / Satu hal yang pasti, dan Sisanya adalah Dusta; / Bunga yang pernah sekali mekar, mati untuk selama-lamanya.

Diriku ketika masih muda begitu bergariah mengunjungi / Kaum Cerdik pandai dan Orang Suci, dan mendengarkan Perdebatan besar / Tentang ini dan tentang: namun terlebih lagi / Keluar dari Pintu yang sama seperti ketika kumasuk.

Dengan Benih Hikmat aku menabur, / Dan dengan tanganku sendiri mengusahakannya agar bertumbuh; / Dan cuma inilah Panen yang kupetik - / "Aku datang bagai Air, dan bagaikan Bayu aku pergi."

Ke dalam Jagad ini, dan tanpa mengetahui, / Entah ke mana, seperti Air yang mengalir begitu saja: / Dan dari padanya, seperti Sang Bayu yang meniup di Padang, / Aku tak tahu ke mana, bertiup sesukanya.

Jari yang Bergerak menulis; dan, setelah menulis, / Bergerak terus: bukan Kesalehanmu ataupun Kecerdikanmu / Yang akan memanggilnya kembali untuk membatalkan setengah Garis, / Tidak juga Air matamu menghapuskan sepatah Kata daripadanya.

Dan Cawan terbalik yang kita sebut Langit, / Yang di bawahnya kita merangkak hidup dan mati, / Janganlah mengangkat tanganmu kepadanya meminta tolong - karena Ia / Bergelung tanpa daya seperti Engkau dan Aku.

Omar Khayyám, Penulis dan Penyair

Omar Khayyám kini terkenal bukan hanya keberhasilan ilmiahnya, tetapi karena karya-karya sastranya. Ia diyakini telah menulis sekitar seribu puisi 400 baris. Di dunia berbahasa Inggris, ia paling dikenal karena The Rubáiyát of Omar Khayyám dalam terjemahan bahasa Inggris oleh Edward Fitzgerald (1809-1883).

  1. Tsabit Bin Qurrah

Abu'l Hasan Tsabit bin Qurra' bin Marwan al-Sabi al-Harrani, (826 – 18 Februari 901) adalah seorang astronom dan matematikawan dari Arab, dan dikenal pula sebagai Thebit dalam bahasa Latin.

Tsabit lahir di kota Harran, Turki. Tsabit menempuh pendidikan di Baitul Hikmah di Baghdad atas ajakan Muhammad ibn Musa ibn Shakir. Tsabit menerjemahkan buku Euclid yang berjudul Elements dan buku Ptolemy yang berjudul Geograpia.

Al-Sabiʾ Thabit bin Qurra al-Ḥarrānī, Latin: Thebit / Thebith / Tebit, 826 - 18 Februari, 901) adalah seorang ahli matematika, dokter, astronom, dan penerjemah Islam Golden Age yang tinggal di Baghdad pada paruh kedua abad kesembilan.

Ibnu Qurra membuat penemuan penting dalam aljabar, geometri, dan astronomi. Dalam astronomi, Thabit dianggap sebagai salah satu dari para reformis pertama dari sistem Ptolemaic, dan dalam mekanika dia adalah seorang pendiri statika.

  1. Muhammad Bin Zakariya Ar-Razi

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 - 930. Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad. Ar-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan serbabisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam sejarah.

Biografi

Ar-Razi lahir pada tanggal 28 Agustus 865 Hijirah dan meninggal pada tanggal 9 Oktober 925 Hijriah. Nama Razi-nya berasal dari nama kota Rayy. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran Dataran Tinggi Alborz yang berada di dekat Teheran, Iran. Di kota ini juga, Ibnu Sina menyelesaikan hampir seluruh karyanya.

Saat masih kecil, ar-Razi tertarik untuk menjadi penyanyi atau musisi tapi dia kemudian lebih tertarik pada bidang alkemi. Pada umurnya yang ke-30, ar-Razi memutuskan untuk berhenti menekuni bidang alkemi dikarenakan berbagai eksperimen yang menyebabkan matanya menjadi cacat. Kemudian dia mencari dokter yang bisa menyembuhkan matanya, dan dari sinilah ar-Razi mulai mempelajari ilmu kedokteran.

Dia belajar ilmu kedokteran dari Ali ibnu Sahal at-Tabari, seorang dokter dan filsuf yang lahir di Merv. Dahulu, gurunya merupakan seorang Yahudi yang kemudian berpindah agama menjadi Islam setelah mengambil sumpah untuk menjadi pegawai kerajaan dibawah kekuasaan khalifah Abbasiyah, al-Mu'tashim.

Ar-Razi kembali ke kampung halamannya dan terkenal sebagai seorang dokter disana. Kemudian dia menjadi kepala Rumah Sakit di Rayy pada masa kekuasaan Mansur ibnu Ishaq, penguasa Samania. Ar-Razi juga menulis at-Tibb al-Mansur yang khusus dipersembahkan untuk Mansur ibnu Ishaq. Beberapa tahun kemudian, ar-Razi pindah ke Baghdad pada masa kekuasaan al-Muktafi dan menjadi kepala sebuah rumah sakit di Baghdad.

Setelah kematian Khalifan al-Muktafi pada tahun 907 Masehi, ar-Razi memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya di Rayy, dimana dia mengumpulkan murid-muridnya. Dalam buku Ibnu Nadim yang berjudul Fihrist, ar-Razi diberikan gelar Syaikh karena dia memiliki banyak murid. Selain itu, ar-Razi dikenal sebagai dokter yang baik dan tidak membebani biaya pada pasiennya saat berobat kepadanya.

Kontribusi

Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar: "Cacar terjadi ketika darah 'mendidih' dan terinfeksi, dimana kemudian hal ini akan mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian darah muda (yang kelihatan seperti ekstrak basah di kulit) berubah menjadi darah yang makin banyak dan warnanya seperti anggur yang matang. Pada tahap ini, cacar diperlihatkan dalam bentuk gelembung pada minuman anggur. Penyakit ini dapat terjadi tidak hanya pada masa kanak-kanak, tapi juga masa dewasa. Cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah mencegah kontak dengan penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar bisa menjadi epidemi."

Diagnosa ini kemudian dipuji oleh Ensiklopedia Britanika (1911) yang menulis: "Pernyataan pertama yang paling akurat dan tepercaya tentang adanya wabah ditemukan pada karya dokter Persia pada abad ke-9 yaitu Rhazes, dimana dia menjelaskan gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang dijelaskan dengan perumpamaan fermentasi anggur dan cara mencegah wabah tersebut."

Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak) adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam Latin dan bahasa Eropa lainnya. Cara penjelasan yang tidak dogmatis dan kepatuhan pada prinsip Hippokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir ar-Razi dalam buku ini.

Berikut ini adalah penjelasan lanjutan ar-Razi: "Kemunculan cacar ditandai oleh demam yang berkelanjutan, rasa sakit pada punggung, gatal pada hidung dan mimpi yang buruk ketika tidur. Penyakit menjadi semakin parah ketika semua gejala tersebut bergabung dan gatal terasa di semua bagian tubuh. Bintik-bintik di muka mulai bermunculan dan terjadi perubahan warna merah pada muka dan kantung mata. Salah satu gejala lainnya adalah perasaan berat pada seluruh tubuh dan sakit pada tenggorokan."

Alergi dan demam

Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit "alergi asma", dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri.

Farmasi

Pada bidang farmasi, ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ar-razi juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri.

Etika kedokteran

Ar-Razi juga mengemukakan pendapatnya dalam bidang etika kedokteran. Salah satunya adalah ketika dia mengritik dokter jalanan palsu dan tukang obat yang berkeliling di kota dan desa untuk menjual ramuan. Pada saat yang sama dia juga menyatakan bahwa dokter tidak mungkin mengetahui jawaban atas segala penyakit dan tidak mungkin bisa menyembuhkan semua penyakit, yang secara manusiawi sangatlah tidak mungkin. Tapi untuk meningkatkan mutu seorang dokter, ar-Razi menyarankan para dokter untuk tetap belajar dan terus mencari informasi baru.

Dia juga membuat perbedaan antara penyakit yang bisa disembuhkan dan yang tidak bisa disembuhkan. Ar-Razi kemudian menyatakan bahwa seorang dokter tidak bisa disalahkan karena tidak bisa menyembuhkan penyakit kanker dan kusta yang sangat berat. Sebagai tambahan, ar-Razi menyatakan bahwa dia merasa kasihan pada dokter yang bekerja di kerajaan, karena biasanya anggota kerajaan suka tidak mematuhi perintah sang dokter.

Ar-Razi juga mengatakan bahwa tujuan menjadi dokter adalah untuk berbuat baik, bahkan sekalipun kepada musuh dan juga bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Buku-buku Kedokteran Ar-Razi

Berikut ini adalah karya ar-Razi pada bidang kedokteran yang dituliskan dalam buku:

  1. Hidup yang Luhur
  2. Petunjuk Kedokteran untuk Masyarakat Umum
  3. Keraguan pada Galen
  4. Penyakit pada Anak
  1. Abu Musa Jabir Bin Hayyan

Abu Musa Jabir bin Hayyan, atau dikenal dengan nama Geber di dunia Barat, diperkirakan lahir di Kuffah, Irak pada tahun 722 dan wafat pada tahun 804. Kontribusi terbesar Jabir adalah dalam bidang kimia. Keahliannya ini didapatnya dengan ia berguru pada Barmaki Vizier, pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap.

Kontribusi lainnya antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut. Bapak Kimia Arab ini dikenal karena karya-karyanya yang sangat berpengaruh pada ilmu kimia dan metalurgi. Karya Jabir antara lain:

  1. Kitab Al-Kimya (diterjemahkan ke Inggris menjadi The Book of the Composition of Alchemy)
  2. Kitab Al-Sab'een
  3. Kitab Al Rahmah
  4. Al Tajmi
  5. Al Zilaq al Sharqi
  6. Book of The Kingdom
  7. Book of Eastern Mercury
  8. Book of Balance'

Demikianlah Tokoh Ilmuwan Atau Penemu Muslim Terhebat Dalam Sejarah Islam semoga apa yang dipaparkan dalam artikel ini dapat bermanfaat untuk Anda semua sebagai bahan untuk menambah ilmu pengetahuan serta wawasan. Akhir kata Terimakasih atas kunjungannya.

Read 138 times

Related items

  • Model Pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition)
    Model Pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition)

    Model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated and Composition) merupakan pembelajaran terpadu yang terutama diperuntukkan pada mata pelajaran yang menggunakan bahasa dalam rangka membaca dan menemukan ide pokok, pokok pikiran, atau tema sebuah wacana. Maksudnya adalah peserta didik membaca materi yang diajarkan, selanjutnya menuliskannya ke dalam bentuk tulisan yang dilakukan secara kooperatif. Model pembelajaran CIRC ini dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membaca dan menerima umpan balik dari kegiatan membaca yang telah dilakukan.

    Secara umum, model pembelajaran CIRC dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis, di mana peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok untuk meningkatkan kemampuan pemahaman dalam membaca dan menulis, serta memahami kosa kata berikut seni berbahasa.

    Fokus utama dari kegiatan-kegiatan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) adalah membuat penggunaan waktu tindak lanjut menjadi lebih efektif. Para peserta didik yang bekerja di dalam tim-tim kooperatif dari kegiatan-kegiatan ini, dikoordinasikan dengan pengajaran kelompok membaca, supaya memenuhi tujuan dalam bidang-bidang lain seperti pemahaman membaca, kosakata, pembacaan pesan dan ejaan.

    Robert E. Slavin, dalam bukunya yang berjudul "Cooperative Learning : Theory, Research, and Practice", menyebutkan bahwa  Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) adalah suatu program yang komprehensif untuk mengajari pelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa pada kelas yang lebih tinggi di sekolah dasar.

    Prinsip Model Pembelajaran CIRC

    Prinsip model pembelajaran CIRC ini sejalan dengan empat pilar pendidikan yang digariskan oleh United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) dalam kegiatan pembelajaran, yaitu :

    1. Learning to know (belajar untuk mengetahui).
    2. Learning to do (belajar untuk berbuat).
    3. Learning to be (belajar untuk menjadi diri sendiri).
    4. Learning to live together (belajar untuk hidup dalam kebersamaan).

    Komponen Pembelajaran CIRC

    Menurut Robert E. Slavin, komponen dalam model pembelajaran CIRC adalah :

    1. Teams, yaitu pembentukan kelompok yang heterogen (campuran), yang terdiri dari 4 - 5 peserta didik.
    2. Placement test, yaitu pemberian tes kepada peserta didik untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan peserta didik dalam bidang tertentu.
    3. Student creative, yaitu pelaksanaan tugas dalam sebuah kelompok dengan menciptakan kondisi di mana keberhasilan setiap individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan dari kelompoknya.
    4. Team study, yaitu tahapan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok peserta didik. Guru hanya akan memberikan bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya.
    5. Team scorer and team recognition, yaitu pemberian nilai dan penghargaan terhadap hasil kerja peserta didik dalam kelompok.  
    6. Teaching group, yaitu guru memberikan materi secara singkat dan jelas saat pemberian tugas kelompok.
    7. Facts test, yaitu pelaksanaan test (ulangan) yang didasarkan pada materi (fakta) yang telah diperoleh atau dipelajari oleh peserta didik.
    8. Whole class units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru setelah proses pembelajaran telah mencapai akhir dengan strategi pemecahan masalah.

    Pengelompokan Pembelajaran CIRC

    Berdasarkan keterpaduannya (integrated), Robin Fogarty dalam bukunya yang berjudul How to Integrate the Curricula, mengklaslifikasikan model pembelajaran CIRC menjadi beberapa kelompok, yaitu :

    1. Model dalam satu disiplin ilmu yang meliputi model keterhubungan (connected) dan model terangkai (nested).
    2. Model antar bidang studi yang meliputi model urutan (sequenced), model perpaduan (shared), model jaring laba-laba (webbed), model bergalur (theaded), dan model terpadu (integreted).
    3. Model dalam lintas siswa.

    Tujuan Model Pembelajaran CIRC

    Terdapat beberapa tujuan dari pelaksanaan model pembelajaran CIRC. Menurut  Robert E. Slavin, tujuan dari model pembelajaran CIRC adalah :

    1. Meningkatkan kemampuan dan kesempatan peserta didik dalam membaca serta menerima umpan balik dari kegiatan membaca.
    2. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami bacaan.
    3. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menulis dan seni berbahasa, sehingga peserta didik dapat merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi materi pelajaran yang dibacanya dalam bentuk tulisan dengan memakai bahasanya sendiri. 

    Langkah-Langkah CIRC

    Dalam model pembelajaran CIRC setiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas, sehingga terbentuk pemahaman dan pengalaman dalam belajar. Secara umum, model pembelajaran CIRC dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

    1. Guru membagi peserta didik dalam beberapa kelompok, di mana satu kelompok beranggotakan 4 - 5 orang peserta didik.
    2. Guru memberikan materi bacaan sesuai dengan topik pembelajaran.
    3. Peserta didik bekerja sama saling membacakan dan berusaha menemukan ide pokok dari materi bacaan tersebut serta memberikan tanggapan terhadap apa yang telah dibacanya dengan menuliskannya pada selembar kertas.
    4. Peserta didik mempresentasikan atau membacakan hasil dari diskusi kelompok, selanjutnya guru memberikan masukan yang bersifat menguatkan (reinforcement).
    5. Guru dan peserta didik membuat kesimpulan bersama.
    6. Penutup kegiatan.

    Fase Model Pembelajaran

    Terdapat lima fase dalam  model pembelajaran CIRC, yang didasarkan pada langkah-langkah model pembelajaran CIRC tersebut, yaitu sebagai berikut :

    • orientasi. Pada fase ini, guru melakukan apersepsi dan pengetahuan awal peserta didik tentang materi yang akan diberikan. Pada fase ini juga akan disampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan kepada peserta didik.
    • organisasi. Pada fase ini, guru akan melakukan beberapa hal, yaitu : 1. membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok dengan memperhatikan keheterogenan akademik. 2. membagikan bahan bacaan tentang materi yang akan dibahas kepada siswa. 3. menjelaskan mekanisme diskusi kelompok dan juga tugas yang harus diselesaikan selama proses pembelajaran berlangsung.
    • pengenalan konsep. Pada fase ini, akan dikenalkan suatu konsep yang mengacu pada hasil penemuan selama peserta didik melakukan eksplorasi terhadap materi bacaan. Pengenalan konsep dimaksud dapat berasal dari keterangan guru, buku paket, maupun media lain.
    • publikasi. Pada fase ini, peserta didik akan mengkomunikasikan hasil temuan-temuannya, membuktikan, dan memperagakan tentang materi yang dibahas baik dalam kelompok ataupun di depan kelas.
    • penguatan dan refleksi. Pada fase ini, guru akan memberikan penguatan berhubungan dengan materi yang dipelajari melalui penjelasan-penjelasan atau memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya peserta didik diberi kesempatan untuk merefleksikan dan mengevaluasi hasil pembelajarannya.

    Kelebihan dan Kekurangan

    Sebagaimana model pembelajaran yang lain, model pembelajaran CIRC juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan Dan kekurangan Model Pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) adalah sebagai berikut :

    1. Kelebihan Model Pembelajaran CIRC

    Beberapa kelebihan model pembelajaran CIRC adalah :

      1. CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) sangat tepat untuk meningkatkan ketrampilan peserta didik dalam menyelesaikan soal cerita.
      2. Dominasi guru dalam proses pembelajaran berkurang.
      3. Pelaksanaan program sederhana sehingga mudah diterapkan.
      4. Peserta didik termotivasi pada hasil secara teliti, karena belajar dalam kelompok.
      5. Para peserta didik dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaannya.
      6. Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal cerita.
      7. Peserta didik yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalahnya.
      8. Peserta didik dapat lebih memahami makna dari soal yang dihadapi dan dapat saling mengecek hasil pekerjaannya dengan anggota kelompok yang lain.
      9. Memotivasi peserta didik untuk mencapai hasil yang lebih baik dan teliti, karena proses belajar dilakukan secara kelompok.
      10. Pelaksanaan program sederhana sehingga mudah diterapkan.
      11. Peserta didik dituntut untuk aktif, sehingga peran dan dominasi guru dalam proses pembelajaran berkurang.
    1. Kekurangan Model Pembelajaran CIRC

    Pada dasarnya model pembelajaran CIRC hanya dapat diterapkan pada mata pelajaran yang menggunakan bahasa, sehingga model pembelajaran CIRC tidak dapat diterapkan pada mata pelajaran seperti matematika dan mata pelajaran lain yang menggunakan prinsip menghitung. Kekurangan lain dari model pembelajaran CIRC diantaranya adalah:

      1. Menimbulkan kesulitan apabila diterapkan pada peserta didik yang kurang bisa membaca.
      2. Menimbulkan kejenuhan dan kelelahan pada peserta didik apabila mereka diminta membaca terlalu banyak.
      3. Jika diterapkan terlalu sering peserta didik akan merasa bosan.

    Demikian penjelasan berkaitan dengan Model Pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) yang bisa penulis jabarkan. Semoga bermanfaat bagi Anda semua.

    Sumber Pustaka

    1. Abdullah, Model Cooperative Integrated Reading dan Composition (CIRC), (Yogyakarta: JurnalPendidikan Karakter, Volume 3, Nomor 2), 2016
    2. Slavin, Robert E, Cooperative Learning Teori, Riset Dan Praktik, Bandung: Nusamedia, cet. 6, 2010
    3. Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progesif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010.
  • Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)
    model pembelajaran contextual teaching and learning

    Model pembelajaran contextual teaching and learning atau kontekstual pertama kali dikemukakan oleh John Dewey, seorang ahli pendidikan berkewarganegaraan Amerika Serikat, pada sekitar tahun 1916. Dalam model pembelajaran kontekstual yang dikemukakannya tersebut,

    John Dewey menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman siswa. John Dewey menyebutkan bahwa  belajar merupakan sesuatu yang kompleks dan multidimensi yang jauh melampaui berbagai metodologi yang hanya berorientasi pada stimulus respon. Belajar hanya terjadi jika siswa memproses informasi atau pengetahuan baru, sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berfikir yang dimilikinya.

    Pengertian Contextual Teaching And Learning

    Model pembelajaran contextual teaching and learning merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur secara sistematis dalam mengorganisasikan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Pendekatan kontekstual ini juga menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer, mengumpulkan, menganalisa data, memecahkan masalah tertentu baik secara individu atau kelompok.

    Berdasarkan pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa metode pembelajaran Contextual Teaching And Learning adalah mempraktikkan konsep belajar dengan mengaitkan materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata peserta didik. Peserta didik secara bersama-sama membentuk suatu sistem yang memungkinkan mereka melihat makna di dalamnya. Dengan kata lain,  metode pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsepsi pengajaran dan pembelajaran yang membantu pendidik mengaitkan bahan subjek yang dipelajari dengan situasi dunia sebenarnya dan memotivasikan pembelajar (peserta didik) untuk membuat kaitan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan keseharian peserta didik.

    Pengertian Contextual Teaching And Learning Menurut Ahli

    Selain itu, pengertian model pembelajaran kontekstual juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah sebagai berikut :

    1. Elaine B. Johnson, dalam "Teaching and Learning : Menjadikan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna"

    Menyebutkan bahwa model pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa peserta didik mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya. Menurut Elaine B. Johnson, pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsep tentang pembelajaran yang membantu para pendidik untuk menghubungkan isi bahan ajar dengan situasi dunia nyata serta penerapannya dalam kehidupan peserta didik sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja, serta terlibat aktif dalam kegiatan belajar yang dituntut dalam pelajaran.

    1. Wina Sanjaya, dalam "Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan"

    Menyebutkan bahwa model pembelajaran kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

    1. Trianto, dalam "Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktifistik"

    Menyebutkan bahwa model pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yakni: kontruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan dan penilaian autentik.

    1. Nurhadi, dalam "Pendekatan Kontekstual"

    menyebutkan bahwa model pembelajaran kontekstual adalah suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota kelurga dan masyarakat.

    Pemahaman Contextual Teaching And Learning

    Berdasarkan konsep model pembelajaran Contextual Teaching And Learning tersebut terdapat tiga hal yang harus dipahami, yaitu :

    1. Metode pembelajaran kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi. Artinya, proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks pembelajaran kontekstual tidak mengharapkan agar peserta didik hanya menerima pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
    2. Metode pembelajaran kontekstual mendorong agar peserta didik dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Artinya, peserta didik dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab dengan dapat mengkorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, materi yang dipelajarinya itu akan bermakna secara fungsional dan tertanam erat dalam memori peserta didik sehingga tidak akan mudah terlupakan.
    3. Metode pembelajaran kontekstual mendorong peserta didik untuk dapat menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan. Artinya, metode pembelajaran kontekstual tidak hanya mengharapkan peserta didik dapat memahami materi yang dipelajarinya, tetapi bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks  pembelajaran kontekstual tidak untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan, tetapi sebagai bekal bagi mereka dalam kehidupan nyata. 

    Komponen Model Pembelajaran Kontekstual

    Terdapat beberapa komponen dalam model pembelajaran kontekstual. Menurut Kementerian Pendidikan Nasional komponen dari model pembelajaran kontekstual adalah : 

    1. Kontruktivisme (Contructivism)

    Kontruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan model pembelajaran kontekstual. Pandangan dari kontruktivisme ini bahwa peserta didik membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Dasar pembelajaran tersebut harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Tugas pendidik adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara :

      1. menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.
      2. memberi kesempatan pada siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri.
      3. menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
    1. Menemukan (Inquiry)

    Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis model pembelajaran kontekstual. Pengertian dari menemukan ini adalah inquiry, prinsip ini mempunyai seperangkat siklus, yaitu : observasi, bertanya, mengajukan, dugaan, mengumpulkan data, dan menyimpulkan. Sebagai sebuah modul pembelajaran, prinsip inquiry sangat tepat bagi penanaman konsep yang membutuhkan kerja eksplorasi dalam bentuk induktif. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat fakta-fakta tetapi hasil menemukan sendiri.

    1. Bertanya (Questioning)

    Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berfikir peserta didik. Salah satu kegiatan dalam bentuk formalnya adalah mengawali, menguatkan, dan menyimpulkan sebuah konsep. Bentuknya bisa dilakukan pendidik langsung kepada peserta didik atau justru memancing peserta didik untuk bertanya kepada pendidik, kepada peserta didik lain, atau kepada orang lain secara khusus. Kegiatan ini sangatlah menunjang setiap aktivitas belajar. Bukankah pengetahuan yang dimiliki seseorang biasanya dimulai dari "bertanya".

    1. Masyarakat Belajar (Learning Community)

    Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain (antara teman sejawat, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu). Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Prakteknya dalam pembelajaran dapat terwujud dalam pembentukan kelompok kecil, kelompok besar, mendatangkan ahli ke kelas dan lain-lain.

    1. Pemodelan (Modelling)

    Suatu pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model tersebut dapat berupa, cara mengoperasikan sesuatu, melafalkan bunyi, cara menemukan kunci dalam bacaan, dan lain-lain. Jika seorang peserta didik pernah memenangkan lomba baca puisi peserta didik tersebut  ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya di depan teman sekelasnya maka peserta didik tersebut  dikatakan sebagai model.

    1. Refleksi (Reflection)

    Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang hal-hal yang telah dilakukan pada masa lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima atau ditemukan, misalnya setelah belajar perkembangbiakan secara vegetatif seorang peserta didik merenung "berarti menanam biji pohon jambu teman saya itu adalah cara yang kurang tepat, mestinya saya cangkok saja agar rasanya sama". Pembelajaran pendidik hendaknya menyisakan waktu untuk refleksi, misalnya pernyataan langsung tentang hal-hal yang baru diperoleh, kesan dan saran, diskusi, catatan atau jurnal di buku peserta didik.

    1. Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)

    Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan peserta didik. Gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, oleh karena itu assessment dilakukan sepanjang proses dan kegiatan nyata yang dilakukan peserta didik saat melakukan pembelajaran. Kemajuan belajar tidak hanya dinilai dari hasil ujian tertulis, tapi dari proses yang dinilai dari berbagai cara.

    Komponen Menurut Elaine B. Johnson

    Sedangkan menurut Elaine B. Johnson, beberapa komponen yang harus ditempuh dalam model pembelajaran Contextual Teaching And Learning adalah sebagai berikut :

    1. Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna. 
    2. Melakukan pekerjaan yang berarti.
    3. Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri. 
    4. Bekerja sama. 
    5. Berpikir kritis dan kreatif. 
    6. Membantu individu untuk tumbuh dan berkembang. 
    7. Mencapai standar yang tinggi. 
    8. Menggunakan penilaian otentik.

    Karakteristik Model Pembelajaran Kontekstual

    Terdapat beberapa karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual, yaitu sebagai berikut :

    1. Dalam metode pembelajaran kontekstual, pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge), maksudnya adalah apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
    2. Pembelajaran yang kontekstual adalah pembelajaran dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu dapat diperoleh dengan cara deduktif, maksudnya adalah pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian memperhatikan detailnya.
    3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), maksudnya adalah pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal, melainkan untuk dipahami dan diyakini.
    4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge), maksudnya adalah  pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. 
    5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.

    Karakteristik Contextual Learning and Teaching Menurut Nurhadi

    Menurut Nurhadi  karakteristik model pembelajaran kontekstual diantaranya adalah :

    1. Melakukan hubungan yang bermakna.
    2. Melakukan kegiatan yang signifikan.
    3. Belajar yang diatur sendiri.
    4. Bekerja sama.
    5. Berfikir kritis 

    Tujuan Model Pembelajaran Kontekstual

    Menurut Elaine B. Johnson tujuan dari model pembelajaran kontekstual yaitu sebagai berikut:

    1. Meningkatkan minat dan prestasi belajar serta membekali peserta didik dengan pengetahuan yang fleksibel, sehingga dapat diterapkan (dikirim) dari satu permasalahan ke permasalahan yang lain, dan dari satu konteks ke konteks yang lain.

    2. Menolong para peserta didik melihat makna dari materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya. Pengetahuan dan keterampilan peserta didik diperoleh dari usaha peserta didik mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. 

    Strategi dalam Model Pembelajaran Kontekstual

    Menurut Center for Occupational Research and Development (CORD) terdapat beberapa strategi dalam penerapan model pembelajaran kontekstual yang dikenal dengan istilah REACT, yaitu:

    1. Relating, maksudnya adalah belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
    2. Experiencing, maksudnya adalah belajar ditekankan pada penggalian (exploration), penemuan (discovery), dan penciptaan (invention). 
    3. Applying, maksudnya adalah belajar bilamana pengetahuan dipresentasikan di dalam konteks pemanfaatannya.
    4. Cooperating, maksudnya adalah belajar melalui konteks komunikasi interpersonal, pemakaian dan pemaknaan bersama.
    5. Transfering, maksudnya adalah belajar melalui pemanfaatan pengetahuan di dalam situasi atau konteks baru.

    Sedangkan Nurhadi menyebutkan bahwa terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam model pembelajaran kontekstual, diantaranya adalah sebagai berikut : 

    1. Pemecahan masalah. Penyajian masalah yang nyata kepada peserta didik bertujuan agar peserta didik berfikir secara kritis dalam rangka mencari dan menemukan pemecahannya melalui berbagai sumber belajar. 
    2. Kebutuhan pembelajaran terjadi diberbagai konteks, misalnya rumah, masyarakat, dan tempat kerja. Bagaimana dan dimana peserta didik memperolah dan memunculkan pengetahuannya menjadi sangat berarti dan pengalaman belajarnya ini akan diperkaya jika mereka mempelajari berbagai macam keterampilan di dalam konteks lain yang bervariasi (rumah, keluarga, masyarakat, tempat kerja dan sebagainya). 
    3. Mengontrol dan mengarahkan pembelajaran peserta didik, sehingga menjadi pembelajar yang mandiri (self regulated learner) untuk selanjutnya menjadi pembelajar sepanjang hayat (life long education) yang mampu mencari, menganalisa dan menggunakan berbagi macam informasi.  
    4. Kondisi peserta didik sangat heterogen dalam hal nilai, adat istiadat, sosial, dan perspektif. Perbedaan tersebut dimanfaatkan sebagai pendorong dalam belajar sekaligus akan menambah dalam kompleksitas pembelajaran kontekstual. Oleh karena itu peserta didik mampu menghargai perbedaan dan memperluas perspektifnya serta membangun keterampilan interpersonal (berfikir melalui berkomunikasi dengan orang lain). 
    5. Mendorong peserta didik untuk belajar dari sesamanya dan bersama-sama dengan saling ketergantungan (interdependent learning group). Kenyataan setiap orang selalu hidup dalam kebersamaan yang saling mempengaruhi dan berkontribusi terhadap pengetahuan dan kepercayaan orang lain. 
    6. Menggunakan penilaian autentik (authentic assessment), artinya penilaian sejalan dengan proses pembelajarannya bahwa pembelajaran telah terjadi secara menyatu dan memberikan kesempatan dan arahan kepada peserta didik untuk maju dan sebagai alat kontrol untuk melihat kemajuan peserta didik dan umpan balik bagi pembelajaran. 

    Demikian pembehasan mengenai model pembelajaran contextual teaching and learning (kontekstual) yang bisa penulis jabarkan. Semoga bermanfaat bagi Anda semua. Terimakasih atas kunjungannya.

    Sumber Pustaka

    1. Elaine B. Johnson, Contextual Teaching & Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, trj. Ibnu Setiawan (Bandung: MLC, 2007),cet. III hal. 14
    2. Nurhadi, Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning), (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat PLP, 2002).
    3. Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. (Jakarta: Kencana 2012).
    4. Wina Sanjaya, Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2014)
    5. Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran Berorinetasi Standar Proses Pendidikan. (Jakarta : Kencana, 2013)
    6. Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007), h.22
  • Model Pembelajaran Problem Based Learning (Berbasis Masalah)
    model pembelajaran problem based learning

    Berdasarkan pengertiannya, model pembelajaran problem based learning (berbasis masalah) merupakan suatu pendekatan pembelajaran dengan menggunakan masalah sebagai langkah awal untuk mendapatkan pengetahuan baru. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan model pembelajaran berbasis masalah  adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pembelajaran.

    Trianto dalam "Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik", menjelaskan bahwa model pembelajaran berbasis masalah mengacu pada beberapa model pembelajaran yang lain, seperti : 

    1. Model pembelajaran proyek (project based learning). 
    2. Model pendidikan berbasis pengalaman (experience based education). 
    3. Model pembelajaran autentik (autentic learning). 
    4. Model pembelajaran bermakna (anchored instruction).

    Pengertian Model Pembelajaran problem based learning Menurut Para Ahli

    Selain itu, pengertian model pembelajaran berbasis masalah juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

    1. Suyatno (Menjelajah Pembelajaran Inovatif)

    Model pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu proses pembelajaran di mana titik awal pembelajaran dimulai berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata, peserta didik distimulus untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka miliki sebelumnya (prior knowledge) untuk membentuk pengetahuan dan pengalaman baru.

    1. Waras Kamdi (Model-Model Pembelajaran Inovatif)

    Model pembelajaran berbasis masalah adalah sebuah model pembelajaran yang didalamnya melibatkan siswa untuk berusaha memecahkan masalah dengan melalui beberapa tahap metode ilmiah sehingga siswa diharapkan mampu mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan akan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah. 

    1. M. Ibrahim dan M. Nur, (Pembelajaran Berdasarkan Masalah)

    Model pembelajaran problem based learning adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi siswa dalam situasi yang berorientasi pada masalah dunia nyata, termasuk di dalamnya bagaimana belajar. 

    1. Richard Arends, (Learning to Teach)

    Bahwa yang dimaksud dengan model pembelajaran problem based learning adalah suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.

    1. John R. Savery, (Overview of Problem-Based Learning : Definitions and Distinctions)

    Dimuat dalam Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning : 1 (1), menyebutkan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah strategi pembelajaran yang memberdayakan siswa untuk melakukan penelitian, mengintegrasikan teori dan praktik, mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan sebuah solusi praktis atas suatu problem tertentu.

    Ciri-Ciri Model Pembelajaran Berbasis Masalah

    Menurut Trianto, model pembelajaran Problem Based Learning memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 

    1. Pengajuan pertanyaan atau masalah. Pendidik memunculkan pertanyaan yang nyata di lingkungan peserta didik serta dapat diselidiki oleh peserta didik kepada masalah yang autentik ini dapat berupa cerita, penyajian fenomena tertentu, atau mendemonstrasikan suatu kejadian yang mengundang munculnya permasalahan atau pertanyaan. 
    2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Meskipun model pembelajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (Ilmu Pengetahuan Alam, matematika, serta ilmu-ilmu sosial), masalah yang dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, peserta didik dapat meninjau dari berbagi mata pelajaran yang lain. 
    3. Penyelidikan autentik. Model pembelajaran berbasis masalah mengharuskan peserta didik melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah yang disajikan. Metode penyelidikan ini bergantung pada masalah yang sedang dipelajari. 
    4. Menghasilkan produk atau karya. Model pembelajaran berbasis masalah menuntut peserta didik untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat juga berupa laporan, model fisik, video, maupun program computer. 
    5. Kolaborasi. Model pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh peserta didik yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerjasama untuk terlibat dan saling bertukar pendapat dalam melakukan penyelidikan sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang disajikan.

    Sedangkan berdasarkan teori yang dikembangkan Min Liu Barrow dalam Motivating Students Through Problem-based Learning, dijelaskan bahwa karakteristik atau ciri-ciri dari model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut :

    1. Learning is student-centered. Proses pembelajaran dalam model pembelajaran berbasis masalah lebih menitikberatkan kepada peserta didik sebagai orang belajar. Oleh karena itu, model pembelajaran berbasis masalah didukung juga oleh teori konstruktivisme dimana peserta didik didorong untuk dapat mengembangkan pengetahuannya sendiri. 
    2. Autenthic problems from the organizing focus for learning. Masalah yang disajikan kepada peserta didik adalah masalah yang autentik sehingga peserta didik mampu dengan mudah memahami masalah tersebut serta dapat menerapkannya dalam kehidupan profesionalnya nanti. 
    3. New information is acquired through self-directed learning. Dalam proses pemecahan masalah mungkin saja belum mengetahui dan memahami semua pengetahuan pra-sayaratnya sehingga peserta didik berusaha untuk mencari sendiri melalui sumbernya, baik dari buku atau informasi lainnya. 
    4. Learning occurs in small group. Agar terjadi interaksi ilmiah dan tukar pemikiran dalam usaha mengembangkan pengetahuan secara kolaboratif, model pembelajaran berbasis masalah dilaksanakan dalam kelompok kecil. Kelompok yang dibuat menuntut pembagian tugas yang jelas dan penerapan tujuan yang jelas. 
    5. Teachers act as facilitators. Pada pelaksanaan model pembelajaran berbasis masalah, pendidik hanya berperan sebagai fasilitator. Meskipun begitu pendidik harus selalu memantau perkembangan aktivitas peserta didik dan mendorong mereka agar mencapai target yang hendak dicapai.

    Tahapan Pembelajaran Problem Based Learning

    Terdapat beberapa tahapan dalam penerapan model pembelajaran berbasis masalah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menjelaskan bahwa tahapan operasional dalam proses pembelajaran berdasarkan model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:

    1. Konsep Dasar (Basic Concept)

    Dalam tahap ini, fasilitator memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan peta yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran.

    1. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem)

    Dalam tahap ini, fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan peserta didik melakukan berbagai kegiatan brain storming dan semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat.

    1. Pembelajaran Mandiri (Self Learning)

    Dalam tahap ini, peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu :

      1. Agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas.
      2. Informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami.
    1. Pertukaran Pengetahuan (Exchange Knowledge)

    Dalam tahap ini, setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya.

    1. Penilaian (Assessment)

    Dalam tahap ini, penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek, yaitu : 

      1. Aspek pengetahuan (knowledge). 
      2. Aspek kecakapan (skill). 
      3. Aspek sikap (attitude). 

    Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran, dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, pekerjaan rumah, dokumen, dan laporan.

    Tahapan Menurut Richard Arends

    Menurut Richard Arends, terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam penerapan metode pembelajaran berbasis masalah, yaitu sebagai berikut : 

    1. Orientasi peserta didik kepada masalah

    Pada tahap ini, pendidik akan menjelaskan kepada peserta didik tentang :

      1. Tujuan pembelajaran. 
      2. Logistic yang diperlukan. 
      3. Pengajuan masalah. 
      4. Segala sesuatu yang sifatnya memotivasi peserta didik. 
      5. Aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya serta terlibat di dalamnya.
    1. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar

    Pada tahap ini, pendidik membantu siswa mendefenisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

    1. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

    Pada tahap ini, pendidik mendorong peserta didik untuk :

      1. Mengumpulkan informasi yang sesuai. 
      2. Melaksanakan eksperimen. 
      3. Mendapatkan penjelasan berkaitan dengan pemecahan masalah.
    1. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

    Pada tahap ini, pendidik akan membantu peserta didik dalam :

      1. Merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video,  dan model.
      2. Membantu peserta didik untuk berbagi tugas dengan kelompoknya.
    1. Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

    Pada tahap ini, pendidik akan membantu peserta didik dalam hal melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dalam proses-proses yang mereka gunakan.

    Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Problem Based Learning

    Sebagaimana model pembelajaran yang lain, model pembelajaran berbasis masalah juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut Aris Shoimin dalam 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013, kelebihan dan kekurangan model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut :

    1. Kelebihan Pembelajaran Problem Based Learning

      1. Peserta didik didorong untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah dalam situasi nyata.
      2. Peserta didik memiliki kemampuan membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas belajar. 
      3. Pembelajaran berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada hubungannya tidak perlu dipelajari oleh peserta didik. Hal ini mengurangi beban siswa dengan menghafal atau menyimpan informasi. 
      4. Terjadi aktivitas ilmiah pada peserta didik melalui kerja kelompok. 
      5. Peserta didik terbiasa menggunakan sumber-sumber pengetahuan, baik dari perpustakaan, internet, wawancara, dan observasi. 
      6. Peserta didik memiliki kemampuan menilai kemajuan belajarnya sendiri. 
      7. Peserta didik memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah dalam kegiatan diskusi atau presentasi hasil pekerjaan mereka. 
      8. Kesulitan belajar peserta didik secara individual dapat diatasi melalui kerja kelompok dalam bentuk peer teaching.
    1. Kekurangan Pembelajaran Problem Based Learning

      1. Tidak dapat diterapkan untuk setiap materi pelajaran, ada bagian di mana pendidik berperan aktif dalam menyajikan materi. 
      2. Lebih cocok untuk pembelajaran yang menuntut kemampuan tertentu yang kaitannya dengan pemecahan masalah.
      3. Dalam suatu kelas yang memiliki tingkat keragaman peserta didik yang tinggi akan terjadi kesulitan dalam pembagian tugas.

    Kelebihan dan Kekurangan Menurut Dwi Retno Suyanti

    Sedangkan menurut Dwi Retno Suyanti dalam "Strategi Pembelajaran Kimia", menyebutkan bahwa  kelebihan dan kekurangan penerapan model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut :

    1. Kelebihan Model Pembelajaran Berbasis Masalah

      1. Dirancang untuk membantu peserta didik dalam membangun kemampuan berfikir kritis, pemecahan masalah, dan intelektual mereka, dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyelesaikan dengan pengetahuan baru. 
      2. Membuat peserta didik menjadi mandiri dan bebas. 
      3. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk memahami isi pelajaran, dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran peserta didik. 
      4. Dapat memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. 
      5. Membantu peserta didik mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan, juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya. 
      6. Memperlihatkan kepada peserta didik bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berfikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh peserta didik, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku.
      7. Dapat mengembangkan minat peserta didik untuk terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal berakhir.
    1. Kekurangan Model Pembelajaran Berbasis Masalah

      1. Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
      2. Keberhasilan strategi model pembelajaran berbasis masalah membutuhkan cukup waktu untuk persiapan. 
      3. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

    Model problem based learning dimulai oleh adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh peserta didik maupun pendidik, kemudian peserta didik memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang perlu mereka ketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Peserta didik dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong untuk berperan aktif dalam belajar.

    Demikian pembahasan mengenai model pembelajaran problem based learning atau berbasis masalah menurut para ahli. Semoga bermanfaat bagi Anda semua. Akhir kata terimakasih.

    Sumber Pustaka

    1. Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013, (Yogyakarta:Ar-Ruzz Media, 2014), hlm. 130
    2. Arends, Richard. 2008. Learning to Teach. Penerjemah: Helly Prajitno & Sri Mulyani. New York: McGraw Hill Company.
    3. Liu, Min. 2005. Motivating Students Through Problem-based Learning. University of Texas : Austin. [online]. Tersedia : https:// Akses pada tanggal 22-03-2007
    4. Suyanti, Retno Dwi. Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha Ilmu; 2010.
    5. Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta:Kencana Prenada Media Group.
    6. Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
    7. Trianto dan Sunarni. 2011. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik : Konsep, Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya. Jakarta : Prestasi Pustaka
    8. Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
  • Model Pembelajaran Project Based Learning (Berbasis Proyek)
    Model Pembelajaran Project Based Learning

    Model pembelajaran project based learning (berbasis proyek) dikembangkan oleh The George Lucas Education Foundation and Dopplet berdasarkan tingkat perkembangan berfikir peserta didik dengan berpusat pada aktivitas belajar peserta didik sehingga memungkinkan mereka untuk beraktivitas sesuai dengan keterampilan, kenyamanan, dan minat belajarnya.

    Model pembelajaran berbasis proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan oleh peserta didik dalam melakukan investigasi dan memahaminya. Peserta didik akan melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.

    Dengan kata lain, model pembelajaran berbasis proyek memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menentukan sendiri proyek yang akan dikerjakannya baik dalam hal merumuskan pertanyaan yang akan dijawab, memilih topik yang akan diteliti, maupun menentukan kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Peran pendidik dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator, menyediakan bahan dan pengalaman bekerja, mendorong peserta didik berdiskusi dan memecahkan masalah, dan memastikan peserta didik tetap bersemangat selama mereka melaksanakan proyek.

    Di Indonesia, model pembelajaran berbasis proyek merupakan operasionalisasi dari "Konsep Pendidikan Berbasis Produksi", yang banyak dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sebagaimana diketahui bahwa salah satu tujuan utama dari diadakannya Sekolah Menengah Kejuruan adalah untuk menyiapkan lulusan yang siap bekerja di dunia usaha dan industri, oleh karenanya Sekolah Menengah Kejuruan harus dapat membekali peserta didiknya dengan "kompetensi terstandar" yang dibutuhkan untuk bekerja di bidang masing-masing.

    Dengan pembelajaran "berbasis produksi" tersebut peserta didik di Sekolah Menengah Kejuruan diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja. Berdasarkan hal tersebut model pembelajaran berbasis proyek sangat cocok untuk diterapkan pada proses pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan.

    Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Proyek

    Secara sederhana, model pembelajaran berbasis proyek dapat diartikan sebagai suatu metode pembelajaran yang menggunakan proyek atau kegiatan sebagai media pembelajarannya. Model pembelajaran berbasis proyek merupakan suatu metode belajar dengan menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata.

    Sedangkan NYC Departement of Education, mengartikan model pembelajaran berbasis proyek dengan suatu strategi pembelajaran dimana peserta didik harus membangun pengetahuan konten mereka sendiri dan mendemonstrasikan pemahaman baru melalui berbagai bentuk representasi.

    Selain itu, pengertian model pembelajaran berbasis proyek juga dapat dijumpai di dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

    1. Daryanto, dalam "Panduan Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif", menyebutkan bahwa model pembelajaran berbasis proyek adalah cara belajar yang memberikan kebebasan berpikir pada peserta didik yang berkaitan dengan isi atau bahan pengajaran dan tujuan yang direncanakan.
    2. Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana, dalam "Konsep Strategi Pembelajaran", menyebutkan bahwa model pembelajaran berbasis proyek adalah suatu model pembelajaran inovatif yang melibatkan kerja proyek dimana peserta didik bekerja secara mandiri dalam mengkonstruksi pembelajarannya dan mengkulminasikannya dalam produk nyata.
    3. Suzie Boss dan Jane Kraus, dalam "Reinventing Project Based Learning : Your Field Guide Real World Project in the Digital Age", menyebutkan bahwa model pembelajaran berbasis proyek adalah suatu model pembelajaran yang menekankan aktivitas siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan yang bersifat open-ended dan mengaplikasi pengetahuan mereka dalam mengerjakan sebuah proyek untuk menghasilkan sebuah produk otentik tertentu.

    Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Proyek

    Terdapat beberapa karakteristik model pembelajaran berbasis proyek, yaitu sebagai berikut :

    1. Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja.
    2. Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik.
    3. Peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan.
    4. Peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan.
    5. Proses evaluasi dijalankan secara kontinyu.
    6. Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan.
    7. Produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif.
    8. Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.
    9. Peran instruktur atau pendidik adalah sebagai fasilitator, pelatih, penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi, kreasi dan inovasi dari peserta didik.

    Menurut Gora Winastwan dan Sunarto, dalam "Pakematik Strategi Pembelajaran Inovatif Berbasis TIK", disebutkan bahwa model pembelajaran berbasis proyek memiliki karakteristik sebagai berikut:

    1. Mengembangkan pertanyaan atau masalah, yang berarti dalam proses pembelajaran harus mengembangkan pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik.
    2. Memiliki hubungan dengan dunia nyata, yang berarti bahwa pembelajaran yang outentik dan peserta didik dihadapkan dengan masalah yang ada pada dunia nyata.
    3. Menekankan pada tanggung jawab peserta didik, merupakan proses peserta didik untuk mengakses informasi untuk menemukan solusi yang sedang dihadapi.
    4. Penilaian, di mana penilaian dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan hasil proyek yang dikerjakan peserta didik.

    Sedangkan menurut Barbara Stripling, Norah Lovett, dan Fran Corvasce Macko  dalam Project Based Learning : Inspiring Middle School Students to Engage in Deep and Active Learning, karakteristik model pembelajaran berbasis proyek adalah sebagai berikut :

    1. Mengarahkan peserta didik untuk menginvestifigasi ide dan pertanyaan penting. 
    2. Merupakan proses inkuiri
    3. Terkait dengan kebutuhan dan minat peserta didik. 
    4. Berpusat pada peserta didik dengan membuat produk dan melakukan presentasi secara mandiri. 
    5. Menggunakan ketrampilan berpikir kreatif, kritis, dan mencari informasi untuk melakukan investigasi, menarik kesimpulan, dan menghasilkan produk. 
    6. Terkait dengan permasalahan dan isu dunia nyata yang autentik.

    Prinsip Model Pembelajaran Berbasis Proyek

    Menurut J.W. Thomas, dalam Project-Based Learning : A Handbook for Middle and High Teachers, prinsip-prinsip dalam model pembelajaran berbasis proyek adalah sebagai berikut :

    1. Sentralistis

    Model pembelajaran berbasis proyek merupakan pusat dari strategi pembelajaran, karena peserta didik mempelajari konsep utama dari suatu pengetahuan melalui kerja proyek. Pekerjaan proyek merupakan pusat dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik di kelas.

    1. Pertanyaan Penuntun

    Pekerjaan proyek yang dilakukan oleh peserta didik bersumber pada pertanyaan atau persoalan yang menuntun peserta didik untuk menemukan konsep mengenai bidang tertentu. Dalam hal ini aktivitas bekerja menjadi motivasi eksternal yang dapat membangkitkan motivasi internal pada diri peserta didik untuk membangun kemandirian dalam menyelesaikan tugas.

    1. Investigasi Konstruktif

    Pembelajaran berbasis proyek terjadi proses investigasi yang dilakukan oleh peserta didik untuk merumuskan pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengerjakan proyek. Oleh karena itu pendidik harus dapat merancang strategi pembelajaran yang mendorong peserta untuk melakukan proses pencarian dan atau pendalaman konsep pengetahuan dalam rangka menyelesaikan masalah atau proyek yang dihadapi.

    1. Otonomi

    Dalam model pembelajaran berbasis proyek, peserta didik diberi kebebasan atau otonomi untuk menentukan target sendiri dan bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan. Pendidik berperan sebagai motivator dan fasilitator untuk mendukung keberhasilan peserta didik dalam belajar.

    1. Realistis

    Proyek yang dikerjakan oleh  peserta didik merupakan pekerjaan nyata yang sesuai dengan kenyataan di lapangan kerja atau di masyarakat. Proyek yang dikerjakan bukan dalam bentuk simulasi atau imitasi, melainkan pekerjaan atau permasalahan yang benar-benar nyata.

    Tahapan Model Pembelajaran Berbasis Proyek

    Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui dalam penerapan (implementasi) model pembelajaran berbasis proyek. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

    1. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start with Essential Question)

    Dalam tahap ini, pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Pertanyaan disusun dengan mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pertanyaan yang disusun hendaknya tidak mudah untuk dijawab dan dapat mengarahkan peserta didik untuk membuat proyek. Pertanyaan seperti itu pada umumnya bersifat terbuka (divergen), provokatif, menantang, membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking), dan terkait dengan kehidupan peserta didik. Pendidik berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.

    1. Menyusun Perencanaan Proyek (Design Project)

    Dalam tahap ini, perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pendidik dan peserta dlidik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa memiliki atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan kegiatan yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan penting, dengan cara mengintegrasikan berbagai materi yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.

    1. Menyusun Jadwal (Create Schedule)

    Dalam tahap ini, pendidik dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal kegiatan dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas yang dilakukan pada tahap ini diantaranya adalah : 

      1. membuat jadwal untuk menyelesaikan proyek.
      2. menentukan waktu akhir penyelesaian proyek.
      3. membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru.
      4. membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek.
      5. meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang cara pemilihan waktu.

    Jadwal yang telah disepakati harus disetujui bersama agar pendidik dapat melakukan monitoring kemajuan belajar dan pengerjaan proyek di luar kelas.

    1. Memantau Siswa dan Kemajuan Proyek (Monitoring the Students and Progress of Project)

    Dalam tahap ini, pendidik bertanggung jawab untuk memantau kegiatan peserta didik selama menyelesaikan proyek. Pemantauan dilakukan dengan cara memfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain pendidik berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses pemantauan, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan kegiatan yang penting.

    1. Penilaian Hasil (Assessment the Outcome)

    Dalam tahap ini, dilakukan penilaian untuk membantu pendidik dalam :

      1. mengukur ketercapaian standar kompetensi. 
      2. berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing peserta didik.
      3. memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik. 
      4. membantu pendidik  dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
    1. Evaluasi Pengalaman (Evaluation the Experience)

    Tahap ini merupakan tahap akhir dari proses pembelajaran, pendidik dan peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan proyek. Pendidik dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

    Kelebihan dan Kekurangan Project Based Learning

    Sebagaimana model pembelajaran yang lain, model pembelajaran berbasis proyek juga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Menurut Suzie Boss dan Jane Kraus,  kelebihan dan kekurangan model pembelajaran berbasis proyek adalah sebagai berikut :

    1. Kelebihan model pembelajaran project based learning yaitu:
      1. Bersifat terpadu dengan kurikulum sehingga tidak memerlukan tambahan apapun dalam pelaksanaannya. 
      2. Peserta didik terlibat dalam kegiatan dunia nyata dan mempraktikan strategi otentik secara disiplin. 
      3. Peserta didik bekerja secara kolaboratif untuk memecahkan masalah yang penting baginya. 
      4. Teknologi terintegrasi sebagai alat untuk penemuan, kolaborasi, dan komunikasi dalam mencapai tujuan pembelajaran penting dalam cara-cara baru. 
      5. Meningkatkan kerja sama pendidik dalam merancang dan mengimplementasikan proyek-proyek yang melintasi batas-batas geografis atau bahkan melompat zona waktu.
    1. Kekurangan model pembelajaran project based learning adalah sebagai berikut:
      1. memerlukan banyak waktu dan biaya selama proses pembelajaran. 
      2. memerlukan banyak media dan sumber belajar. 
      3. pendidik dan peserta didik harus sama-sama siap belajar dan berkembang. 
      4. ada kekhawatiran peserta didik hanya akan menguasai satu topik tertentu yang dikerjakannya.

    Demikian penjelasan berkaitan dengan pengertian model pembelajaran berbasis proyek (project based learning), karakteristik, prinsip, dan tahapan model pembelajaran berbasis proyek, serta kelebihan dan kekurangan model pembelajaran project based learning. Semoga bermanfaat bagi Anda semua. Akhir kata terimakasih.

    Daftar Pustaka

    1. Abidin, Zainal. 2007. Analisis Eksistensial. Jakarta: Raja Grafindo.
    2. Abdulah Sani, Ridwan. 2014. Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara.
    3. Daryanto. 2009. Panduan Proses Pembelajaran Kreatif & Inovatif. Jakarta: Publisher.
    4. Hanafiah, Nanang. dan Cucu, Suhana. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.
    5. NYC Department of Education. 2009. Project-Based Learning : Inspiring Middle School Students to Engage in Deep and Active Learning. New York.
    6. Sutirman. 2013. Media dan Model-Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
    7. Thomas, J. W. Dkk. (1999). Project-Based Learning: A Handbook for Middle and High Teachers. [Online]. Tersedia : www.bgsu.edu
    8. Winastwan, Gora dan Sunarto. 2010. Pakematik Strategy Pembelajaran Inovatif Berbasis TIK. Jakarta: Flex Media Komputindo.
    9. Wena, Meda. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Klasifikasi Media Pembelajaran Serta Kriteria Pemilihannya

    Klasifikasi media pembelajaran dikelompokkan oleh para ahli bertujuan untuk memudahkan agar para pendidik lebih mudah untuk menyusun media ketika proses belajar mengajar dilaksanakan. Lalu terlintas dalam pikiran Anda, Apakah itu media pembelajaran ? Apa fungsi dari media ini dalam kegiatan belajar mengajar ? Seperti diuraikan pada artikel sebelumnya, bahwa media pembelajaran merupakan komponen instruksional yang meliputi pesan, orang, dan peralatan. Dalam perkembangannya media pembelajaran mengikuti perkembangan teknologi. Dengan klasifikasi media pembelajaran maka dapat mempermudah pendidik untuk melakukan pembelajaran secara jelas sehingga proses belajar mengajar dapat tercapai tujuannya.

    Klasifikasi Media Pembelajaran Serta Kriteria Pemilihannya

    Teknologi yang paling tua yang dimanfaatkan dalam proses belajar adalah percetakan yang bekerja atas dasar prinsip mekanis, kemudian lahir teknologi audio-visual yang menggabungkan penemuan mekanis dan elektronis untuk tujuan pembelajaran. Teknologi yang muncul terakhir adalah teknologi mikro prosesor yang melahirkan pemakian komputer dan kegiatan interaktif.

    Dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama pada bidang elektronik tentunya dapat memperkaya sumber dan media pembelajaran seperti: radio, foto, film, slide, video, komputer. Sebelumnya hanya dapat kita jumpai adanya media sederhana seperti: model, gambar, bagan, dan sebagainya.

    Pada era teknologi media tampil dalam berbagai jenis dan format (modul cetak, film, TV, video, slide, program radio dan komputer) masing-masing memiliki ciri-ciri dan kemampuannya sendiri.

    Dengan bertambahnya jenis media maka timbul pemikiran untuk mengadakan pengelompokan atau klasifikasi media pembelajaran berdasarkan tujuan pemakaian dan karakteristik tiap jenis media, maka dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

    Media Pembelajaran Menurut Perangkatnya

    Dalam pembicaraan tentang media, kita menjumpai beberapa istilah yang terkait dengan perangkat media yaitu materials (bahan media), equipment (peralatan), hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak).

    Keempat istilah itu mempunyai arti yang berbeda, tetapi semuanya adalah nama dari komponen media pembelajaran. Biasanya istilah materials dihubungkan dengan equipment dan istilah perangkat keras dikaitkan dengan perangkat lunak. Karena itu, jika media pembelajaran diklasifikasikan menurut perangkatnya dapat dibedakan menjadi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software).

    Hardware dan software adalah istilah yang pada mulanya dipakai oleh pengusaha komputer, namun kemudian diperluas penggunaannya untuk semua jenis media pembelajaran.

    Software atau perangkat lunak adalah isi pesan yang disimpan pada material. Media pembelajaran yang termasuk perangkat lunak, misalnya isi pesan yang disimpan pada transparan OHP, kaset audio, kaset video, film, slide dan sebagainya.

    Hardware atau perangkat keras adalah peralatan untuk menyampaikan pesan yang disimpan pada materials untuk disampaikan kepada audien. Media pembelajaran yang termasuk dalam perangkat keras, misalnya proyektor, OHP, Proyektor film video, tape recorder, proyektor slide, kamera, komputer dan sebagainya.

    Media Menurut Indera Penerimanya

    Media pembelajaran menurut indera penerimanya terbagi atas: media visual dan media audio.

    Media visual yaitu media yang pesannya hanya dapat diamati dengan Media menurut indera indera penglihatan. Media ini merupakan jenis media yang mempunyai informasi secara visual, tetapi tidak dapat menampilkan suara maupun gerak misalnya: gambar, foto, grafik, dan poster.

    Media audio yaitu media yang menghasilkan pesan hanya dengan suara saja. Jenis media ini juga hanya memanipulasikan kemampuan-kemampuan suara semata-mata, misalnya: radio, tape recorder, labotorium bahasa.

    Ada juga media yang sekaligus dapat diamati dengan indera penglihatan dan pendengaran. Media pembelajaran jenis ini disebut dengan media audio visual. Media audio visual dapat didefinisikan sebagai media yang dapat menghasilkan pesan, yang kesannya dapat dilihat dan didengar. Media ini merupakan media yang paling lengkap, karena menggunakan kemampuan audio visual dan gerak. Yang termasuk media audio visual misalnya: televisi, video, proyektor film bersuara, slide bersuara.

    Alat-alat audio visual adalah alat-alat yang audible artinya dapat didengar dan alat-alat yang visible artinya dapat dilihat. Alat-alat audio visual gunanya adalah untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif yang biasa digunakan baik dalam pembelajaran, penerangan dan penyuluhan.

    Pada zaman kemajuan elektronik sekarang ini, alat-alat audio visual sangat banyak digunakan. Alat-alat tersebut dirasakan sangat berguna dalam mencapai tujuan pembelajaran secara efektif, namun dalam penggunaan alat tersebut memerlukan keterampilan dan kemahiran tertentu. Oleh karena itu efektifitas penggunaan alat tersebut dalam pembelajaran sangat tergantung dari ketepatan materi, rancangan media dan kemampuan menggunakannya.

    Media Pembelajaran Menurut Cara Kerjanya

    Media pembelajaran menurut cara kerjanya diklasifikasikan menjadi 2 yaitu media proyektabel dan non proyektabel.

    Media proyektabel yaitu media yang cara kerjanya dengan menggunakan sistem proyeksi. Media dengan proyeksi ialah jenis media yang penggunaannya memakai proyektor, misalnya: slide proyektor, opaque proyektor, overhead proyektor dan segala jenis film.

    Media non proyektabel yaitu media yang dapat diamati tanpa menggunakan sistem proyeksi dan langsung dapat diamati. Media non proyektor adalah jenis media yang penggunaannya tanpa proyektor dan mempunyai ukuran panjang, lebar, tebal dan tinggi. Misalnya berbagaijenis model, diorama, globe dan sebagainya.

    Media Pembelajaran Menurut Sifatnya

    Media pembelajaran menurut sifatnya diklasifikasikan menjadi media bergerak dan media diam.

    Media Bergerak

    Media yang dapat bergerak yaitu media yang dapat menghasilkan pesan/gambar yang dapat bergerak, misalnya: gambar hidup/bergerak yang terlihat pada gambar yang ada di film gambar pada video/televisi.

    Media bergerak bisa dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu media audio visual gerak, media audio semi gerak dan media visual gerak.

    Media audio visual gerak adalah merupakan media yang paling lengkap, karena menggunakan kemampuan audio visual dan gerak. Mislanya film bersuara, rekaman video, film TV, holografi.

    Media audio semi gerak yakni jenis yang memiliki kemampuan menampilkan suara disertai gerakan titik secara linear, jadi tidak dapat menampilkan gerakan nyata secara utuh, misalnya tulisan jauh.

    Media visual gerak yaitu jenis media yang memiliki kemampuan seperti juga golongan pertama kecuali penampilan suara misalnya film bisu, film slide tanpa suara dan fim video tanpa suara.

    Media Diam

    Media diam yaitu pesan yang diperoleh dari media tersebut hanya diam saja tidak bergerak. Media ini disampaikan dalam bentuk visual artinya hanya dapat dilihat, karena itulah media ini juga bisa disebut media visual diam yang merupakan jenis media yang mempunyai kemampuan menyampaikan informasi secara visual, tetapi tidak dapat menampilkan suara maupun gerak. Yang termasuk klasiflkasi media jenis ini misalnya: gambar dari film slides, gambar dari transparan pada OHP, film rangkai, halaman cetak, video file, dan microform.

    Media Menurut Kelompok Penggunanya

    Media Pembelaiaran menurut kelompok penggunanya dibedakan menjadi media individual, media kelompok, media kelompok besar.

    Media individual yaitu media tersebut hanya dapat digunakan secara perorangan/individu. Sebagai contoh misalnya: mikroskop, lensa, kamera.

    Media kelompok artinya media tersebut dapat digunakan secara perorangan juga dapat digunakan secara kelompok, misalnya segala jenis media paparan (papan tulis, papan planel, gabus, magnetik), seperangkat OHP, slide dan film.

    Media kelompok besar yaitu media tersebut dapat digunakan oleh kelompok masa yang lebih besar, misalnya penyuluhan dilapangan dengan menggunakan film lebar dan pengeras suara dan televisi umum.

    Media pembelajaran dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakan untuk perorangan (individual), kelompok/kelas atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu

    1. Memotivasi minat atau tindakan,
    2. Menyajikan informasi, dan
    3. Memberi instruksi.

    Untuk memenuhi fungsi motivasi, media pembelajaran dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan. Hasil yang diharapkan adalah melahirkan minat dan menstimulus peserta didik atau audiens untuk bertindak (turut memikul tanggung jawab, melayani secara sukarela, atau memberikan sumbangan material). Pencapaian tujuan ini akan mempengaruhi sikap, nilai dan emosi.

    Untuk tujuan informasi, media pembelajaran dapat digunakan dalam rangka penyajian informasi di hadapan sekelompok anak didik/audiens. lsi dan bentuk penyajian bersifat amat umum, berfungsi sebagai pengantar, ringkasan laporan, atau pengetahuan latar belakang. Penyajian dapat pula berbentuk hiburan, drama, atau teknik motivasi. Ketika mendengar atau menonton bahan informasi, siswa-siswi biasanya bersifat pasif. Partisipasi yang diharapkan dari siswa hanya terbatas pada persetujuan atau ketidak setujuan mereka secara mental, atau terbatas pada perasaan tidak/kurang senang, netral atau senang.

    Media berfungsi untuk tujuan intruksi dimana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan anak didik, baik dalam benak atau mental maupun dalam aktifitas yang nyata, sehingga pembelajaran dapat terjadi. Materi harus dirancang secara Iebih sistematis dan psikologis dilihat dari prinsip-prinsip belajar agar dapat menyiapkan instruksi yang efektif. Di samping menyenangkan, media pembelajaran harus dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan memenuhi kebutuhan perorangan pembelajar atau siswa.

    Media Pembelajaran Menurut Ciri/Karakterisitk

    Kemudian dari berbagai bentuk perkembangan yang muncul dari berbagai aspek, maka muncullah usaha-usaha penataan berupa pengelompokan atau pengklasifikasian media pembelajaran menurut kesamaan ciri ataupun karakteristiknya.

    Pengklasifikasian atau penggolongan dilakukan untuk mempermudah mempelajari jenis media, karakter dan kemampuan suatu media. Beberapa bentuk pengklasifikasian media yaitu sebagai berikut :

    1. Taksonomi Menurut Rudy Bretz

    Bretz mengidentifikasi ciri utama dari media menjadi tiga unsur pokok, yaitu suara, visual dan gerak. Visual dibedakan menjadi tiga, yaitu gambar, garis (line graphic) dan simbol yang merupakan kontinium dari bentuk yang dapat ditangkap dengan indera penglihatan. Di samping itu, Bretz juga membedakan antara media siar (telecommunication) dan media rekam (recording) sehingga terdapat 8 klasifikasi media pembelajaran menurut Bretz, yaitu:

      1. Media audio visual gerak,
      2. Media audio visual diam,
      3. Media audio semi-gerak,
      4. Media visual gerak,
      5. Media visual diam,
      6. Media semi-gerak,
      7. Media audio, dan
      8. Media cetak.
    1. Taksonomi menurut Briggs

    Taksonomi ini lebih mengarah pada karakteristik menurut stimulus atau stimulus yang dapat ditimbulkan dari media itu sendiri, yaitu kesesuaian stimulus tersebut dengan karakteristik siswa, tugas pembelajaran, bahan dan transmisinya. Briggs mengidentifikasi 13 macam media yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar, yaitu : objek, model, suara langsung, rekaman audio, media cetak, pembelajaran terprogram, papan tulis, media transparansi, film rangkai, film bingkai, film, televisi dan gambar.

    1. Taksonomi menurut Gagne

    Tanpa menyebutkan jenis dari masing-masing medianya, Gagne membuat 7 macam pengelompokan media, yaitu benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar. Ketujuh kelompok media ini kemudian dikaitkan dengan kemampuan memenuhi fungsi menurut tingkatan hierarki belajar yang dikembangkannya yaitu pelontar stimulus belajar, penarik minat belajar, contoh prilaku belajar, memberi kondisi eksternal, menuntun cara berpikir, memasukkan alih-ilmu, menilai prestasi, dan pemberi umpan balik.

    Media Pembelajaran Berdasarkan Jenisnya

    Cukup banyak jenis media yang telah dikenal dewasa ini, dari yang sederhana sampai yang berteknologi tinggi, dari yang mudah dan sudah ada secara natural sampai kepada media yang harus dirancang sendiri oleh guru. Dilihat berdasarkan jenisnya, media di bagi ke dalam media auditif, visual dan media audio visual dapat di jelaskan sebagai berikut:

    1. Media Auditif

    Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, casseterecorder, piringan hitam.

    1. Media Audio

    Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film strip (film rangkai), foto, gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun.

    1. Media Audiovisual

    Media audio visual merupakan media yang mempunyai unsur-unsur suara dan unsur gambar. Media audio visual terdiri atas audio visual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara, film rangkai suara. Audio visual gerak, yaitu media yang dapat yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassete.

    Pemilihan setiap jenis media mempunyai karakteristik atau sifat-sifat khas tersendiri. Artinya mempunyai kelebihan dan kekurangan satu terhadap yang lain. Sifat-sifat yang biasanya dipakai untuk menentukan kesesuaian penggunaan atau pemilihan media ialah jangkauan seperti: beberapa media tertentu lebih sesuai untuk pengajaran individual misalnya buku teks, modul, program rekaman interaktif (audio, video, dan program komputer). Jenis yang lain lebih sesuai untuk pengajaran kelompok di kelas, misalnya proyeksi (OTH, slide, film) dan juga program rekaman (Aduio dan Video). Ada juga yang lebih sesuai untuk pengajaran asal, misalnya program siaran (radio, televisi, dan konferensi jarak jauh dengan audio).

    Media Pembelajaran Berdasarkan Pendidikan Islam

    Berdasarkan kajian pendidikan Islam, para ahli telah mengklasifikasikan media pendidikan kepada dua bagian: yaitu media pendidikan yang bersifat benda (materil) dan media pendidikan yang bukan benda (nonmateril),

    1. Media pendidikan yang bersifat benda
      1. Media tulis, seperti: Al-Qur’an, Hadits, Tauhid, Fiqih, Sejarah.
      2. Benda-benda alam, seperti: hewan, manusia, tumbuh-tumbuhan.
      3. Gambar-gambar yang dirancang, seperti: grafik.
      4. Gambar-gambar yang diproyeksikan, seperti: Video, transparan, in-focus.
      5. Kelima Audio recording (alat untuk didengar), seperti: kaset, tape radio.
    2. Media pendidikan yang bukan denda
      1. Keteladanan
      2. Perintah/Larangan
      3. Ganjaran.

    Media Berdasarkan Perkembangan Teknologi

    Media pembelajaran dapat dikelompokkan kedalam 4 kelompok, yaitu:

    1. Media hasil teknologi cetak,
    2. Media hasil teknologi audio-visual,
    3. media hasil teknologi yang berdasarkan komputer, dan
    4. Media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer.

    Pengelompokan berbagai jenis media apabila dilihat dari segi perkembangan tekhnologi oleh Seels & Glasgow (1990:181-183) dibagi dalam dua kategori luas, yaitu pilihan media tradisional dan pilihan media teknologi mutakhir.

    Pilihan Media Tradisional

    1. Visual diam yang diproyeksikan; proyeksi opaque (tak-tembus pandang), proyeksi overhead, slide, flimstrips
    2. Visual yang tak diproyeksi; gambar, poster, foto, charts, grafik, diagram, pameran, papan info, papan-bulu
    3. Audio; Rekaman piringan, Pita kaset, reel, cartridge
    4. Penyajian Multimedia; Slide plus suara (tape), Multi-image
    5. Visual dinamis yang diproyeksikan; Flim, Televisi, Vidio
    6. Cetak; Buku teks, Modul, teks terprogram, Workbook, Majalah ilmiah, berkala, Lembaran lepas (hand-out)
    7. Permainan; Teka-teki, Simulasi, Permainan papan
    8. Realia; Model, Specimen (contoh), Manipulatif (peta, boneka)

    Pilihan Media Teknologi Mutakhir

    1. Media berbasis telekomunikasi; Teekonferen, Kuliah jarak jauh
    2. Media berbasis mikro prosesor; Computer assisted intruction, Permaian komputer, Sistem tutor intelejen, Interaktif, Hypermedia, Compact (vidio) disc.

    Jadi dengan memahami berbagai kiasifikasi media pembelajaran, maka akan mempermudah guru (pembelajar) untuk memilih media yang tepat pada waktu merencanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Pemilihan media yang tepat sesuai dengan tujuan, materi serta kemampuan dan karakteristik siswa, sangat menunjang keefektifan serta efisiensi proses pembelajaran.

    Beberapa jenis, bentuk, karakteristik dan klasifikasi media pendidikan sebagaimana diuraikan di atas, kiranya patut menjadi perhatian dan pertimbangan agar dapat memilih media yang dianggap tepat untuk menunjang pencapaian tujuan pengajaran di dalam kelas.

    Kriteria Pemilihan Media

    Ada beberapa kriteria umum yang diperhatikan dalam pemilihan media. Namun demikian secara teoritik setiap media mempunyai kelebihan dan kekurangan yang akan memberikan pengaruh kepada efektivitas program pembelajaran. Kriteria umum dalam pemilihan media yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar antara lain adalah:

    1. Ketersediaan sumber setempat. Artinya, bila media bersangkutan tidak terdapat pada sumber-sumber yang ada, haru dibeli atau dibuat sendiri.
    2. Apakah untuk membeli atau memproduksi sendiri tersebut ada dana, tenaga dan fasilitasnya.
    3. Faktor yang menyangkut keluwesan, kepraktisan dan ketahanan media yang bersangkutan untuk waktu yang lama. Artinya media bisa digunakan di mana pun dengan peralatan yang ada di sekitarnya dan kapanpun serta mudah dijinjing dan dipindahkan.

    Pemilihan media pengajaran yang dilakukan seorang guru tentunya harus melihat semua komponen dari perencanaan pembelajaran. Jadi pemakaian media harus disesuaikan dengan materi, waktu dan pola pembelajaran yang dipakai, hal ini bertujuan agar pemakaian media menjadi lebih efektif. Adapun kriteria yang mencakup komponen dari perencanaan pembelajaran, di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Kesesuaian dengan Tujuan (instructionalgoals)

    Perlu dikaji tujuan pembelajaran apa yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan pembelajaran, dianalisis media apa yang cocok guna mencapai tujuan tersebut, dan analisis dapat diarahkan pada tujuannya kognitif, afektif dan psikomotorik.

    1. Kesesuaian dengan materi pembelajaran

    Yaitu bahan atau kajian apa yang diajarkan pada program pembelajaran tersebut. Pertimbangan lainnya dari bahan dan pokok bahasan tersebut sampai sejauh mana kedalaman yang harus dicapai dengan demikian dapat dipertimbangkan media apa yang sesuai untuk penyampaian bahan tersebut.

    1. Kesesuaian dengan karakteristik siswa

    Dalam hal ini media haruslah familiar dengan karakteristik siswa/guru, yaitu mengkaji sifat-sifat dari ciri media yang akan di gunakan

    1. Kesesuaian dengan teori

    Pemilihan media harus didasari atas kesesuaian teori, media yang dipilih bukan karena fanatisme guru terhadap suatu media yang dianggap paling disukai dan paling bagus, namun didasarkan atas teori yang diangkat dari penelitian dan riset sehingga telah diuji validitasnya.

    1. Kesesuaian dengan gaya belajar siswa

    Kriteria ini didasarkan atas kondisi psikologis siswa, bahwa siswa belajar dipengaruhi pula oleh gaya belajar siswa.

    1. Kesesuaian dengan kondisi lingkungan, pendukung dan waktu.

    Bagaimana bagusnya sebuah media apabila tidak didukung oleh fasilitas dan waktu yang tersedia, maka kurang efektif.

    Berdasarkan uraian di atas, kesesuaian media terhadap komponen pembelajaran harus diperhatikan, karena akan membimbing pada keberhasilan dalam proses pembelajaran di kelas, perlu di ingat media yang bagus tidak selalu efektif jika tidak sesuai dengan materi yang diajarkan. Maka kesesuaian dengan berbagai komponen mutlak adanya.

    Pemilihan media yang akan diterapkan dalam proses mengajar, sangat di harapkan kepada seorang guru untuk dapat menentukan pilihannya masing-masing, sesuai dengan kebutuhannya pada saat pertemuan dengan harapan media yang dipilih dapat mempercepat proses pelaksanaan pelajaran dan akan mencapai tujuan yang diharapkan. Pada saat alat peraga dipilih maka, “pada saat itulah seorang guru sudah mampu berpikir bagaimana encoding, yaitu proses penuangan pesan kedalam simbol-simbol komunikasi, dan melakukan decoding yaitu proses penafsiran simbol-simbol komunikasi yang mengandung pesan-pesan tersebut”.

    Pemilihan alat peraga di dasarkan atas beberapa manfaat menurut Encycloeopdia Of Educational Research dalam merencanakan manfaat media pendidikan sebagai berikut:

    1. Meletakkan dasar-dasar konkret untuk berpikir, oleh karena itu mengurangi Verbalisme.
    2. Memperbesar perhatian siswa.
    3. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap.
    4. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menimbulkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa.
    5. Menimbulkan pemikiran yang teratur dan kontinu terutama melalui gambar hidup.
    6. Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membawa perkembangan kemampuan berbahasa.
    7. Memberikan pengalaman yang tidak mudah di peroleh dengan cara lain dan membantu efisiensi serta keragaman yang lebih banyak dalam belajar.

    Begitulah proses dalam pemilihan media di mana seorang guru harus mampu mengambil suatu benda yang akan di jadikan media dan bagaimana media tersebut kita masukan kepada berbagai macam konsep pelajaran dan bagaimana cara menuangkan konsep yang tersimpan dalam benda tersebut kepada peserta didik, sehingga anak didik mengerti dan memahami suatu materi pelajaran. Adapun kriteria dalam pemilihan media untuk jenis media rancangan (yang dibuat sendiri) perlengkapan yang di ajukan sebagai acuan adalah.

    1. Apakah materi yang akan disampaikan itu untuk tujuan pengajaran atau hanya informasi tambahan atau hiburan.
    2. Apakah media yang dirancang itu untuk keperluan pembelajaran alat-alat bantu pengajaran.
    3. Apakah dalam pengajaran akan menggunakan strategi kognitif, Afektif dan psikomotorik.
    4. Apakah materi yang akan disampaikan itu masih sangat asing bagi anak didik.
    5. Apakah perlu stimulus suara seperti untuk pengajaran bahasa.
    6. Apakah perlu stimulus gerak seperti untuk pengajaran seni atau olah raga.
    7. Apakah perlu stimulus warna.

    Berdasarkan kriteria pemilihan media pembelajaran tersebut, maka seorang guru hendaknya dalam mempergunakan media disesuaikan dengan materi yang diajarkan, perlu diingat bahwa pemilihan media jangan terlalu dipaksakan, sehingga mempersulit proses belajar mengajar di dalam kelas, oleh karena itu media pembelajaran merupakan salah satu unsur untuk mempermudah proses proses belajar mengajar.

    Demikianlah penjelasan dari penulis tentang klasifikasi pada media pembelajaran serta kriteria dalam pemilihannya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda khususnya Bapak?ibu guru. Akhir kata terimakasih.

    Sumber Pustaka
    1. Arif S Sadiman, dik, Media Pendidikan: Pengertian Pengembangan dan Pemanfaatannya, Cet. 10, Jakarta: Rajawali Pers, 2010
    2. Azhar Arsyad. Media Pembelajaran. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003
    3. Depdiknas. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2007
    4. Pupuh Faturrohman dan M. SobrySutikno. Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami. Bandung: RefikaAditama, 2011
    5. Punaji, S. (2008). Pengertian, Fungsi, dan Pemanfaatan Media Pembelajaran. Makalah disajikan dalam lokakarya penyusunan GBIM, Peta Kompetensi, Peta Konsep, Jabaran, di Hotel Kusuma Madya Bandungan pada tanggal 1 – 4 April 2008. Semarang: BPM Semarang.
    6. Rahardjo, R. “Media Pembelajaran” 1986. Dalam Yusufhadi Miarso dan kawan-kawan. Teknologi Komunikasi Pendidikan. Rajawali. Jakarta, 1986
    7. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2008
    8. Rudi Susilana dan Cepi Riyana. Media Pembelajaran Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian. Bandung: Wacana Prima, 2009
    9. Syaiful Bahri Djamarah dan AzwanZain. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2002